Kamis, 23 Juli 2015

banten

BEBANTENAN



BEBANTENAN 
I.                   Perlengkapan bebantenan

A. Canang

1. Canang genten
Terdiri dari :
• Alasnya : janur atau daun pisang bentuk segi empat
• Isinya :
diatas alasnya diisi berturut-turut plawa - porosan – tetuasan dari janur berbentuk kojong/tangkih – bunga-bungaan – bunga rampai – minyak

2. Canang lengawangi-buratwangi
• Alasnya : janur berbetuk segiempat dan di bagian bawahnya dilengkapi 3 tangkih
• Isinya :
Tangkih pertama berisi bahan buratwangi yaitu campuran akar-akaran berbau wangi , cendana, majegau dsbnya yg dihaluskan
Tangkih kedua berisi lengawangi yaitu campuran kacang komak,ubi,keladi, pisang kayu mentah, semua bahan digosongkan lalu dihaluskan
Tangkih ketiga berisi minyak lengawangi bewarna putih yaitu campuran menyan dan malam pd minyak dan wewangian tersebut
Diatas tangkih-tangkih tersebut dilengkapi seperti canang genten dan ditambahkan dg kiping,biu mas,tebu

3. Canang sari
• Alasnya : ceper bungkulan atau tamas
• Sampiyannya : sampyan bundar (uras sari)
• Isi ceper :
plawa,seiris tebu,seiris pisang mas, kekiping, tubungan, seclemik beras kuning
• Isi sampiyan :
Bunga-bungaan dan kembang rampe dan disemprotkan minyak wangi

4. Tadah pawitra/tadah sukla
• Alasnya : janur berbetuk segiempat dan di bagian bawahnya dilengkapi 1 tangkih
• Isinya :
Tangkih berisi campuran kacang komak,ubi,keladi, pisang kayu mentah, semua bahan digoreng dan diletakkan pd tangkih
Diatas tangkih tersebut dilengkapi seperti canang genten

5. Canang gantal
• Alasnya : janur atau daun pisang bentuk segi empat
• Isinya :
diatas alasnya diisi berturut-turut plawa - tubungan . Bedanya tubungannya terdiri dari 7 bh lekesan yg digabungkan menjadi satu dg tali atau benang atau biasa pula ditusuk dg semat .
diatasnya lagi diisi sampyan uras metajuh dg disusuni bunga dan kembang rampe. Pinangnya ada disamping tubungan gantal tersebut.

6. Canang tubungan
• Alasnya : janur atau daun pisang bentuk segi empat
• Isinya :
diatas alasnya diisi berturut-turut plawa - tubungan . Bedanya tubungannya terdiri dari 2 bh tubungan bersilang lalu diikat dg sirih pula.
diatasnya lagi diisi sampyan uras metajuh dg disusuni bunga dan kembang rampe

7. Canang pengraos
• Alasnya : terdiri atas 2 buah taledan maplekir
• Isinya :
Taledan pertama berisi ;
- Satu kojong gambir
- Satu kojong pinang
- Satu kojong kapur
- Satu kojong tembakau
- Ditengah-tengahnya diisi lembaran-lembaran sirih
- Satu ceper rokok dan korek
Taledan kedua berisi :
- Beras kuning
- Minyak wangi
Terakhir diatas taledan tersebut ditambahkan canang sari

8. Canang nyahnyah gringsing
Terdiri dari :
• Alasnya : janur atau daun pisang bentuk segi empat
• Isinya :
diatas alasnya diisi berturut-turut 1 tangkih berisi nyahnyah gringsing ( ketan dan ketan hitam disangan kering,jgn sampai hangus)- plawa - porosan – tetuasan dari janur berbentuk kojong/tangkih – bunga-bungaan – bunga rampai – minyak

9. Canang payasan
Terdiri dari :
• Alasnya : ituk-ituk
• Isinya : plawa-porosan-sampyan payasan berisi bunga

10. Canang Pabersihan/pasucian payasan
Terdiri dari :
• Alasnya : ceper dg 7 celemik dan tampelan yg dijahit pd ceper tersebut
• Isinya :
diatas alasnya diisi
- Tepung tawar
- Sisig ( jaja uli dibakar gosong)
- Ambuh (daun kembang sepatu diiris halus)
- Boreh miik
- Minyak wangi
- Kekosok terbuat dari Tepung beras diwarnai kuningnya kunyit
- Nasi aon
Diatasnya disusuni canang payasan

11. Canang meraka
• Alasnya : sebuah ceper
• Isinya : jajan, pisang dan buah-buahan
Dengan sampyan sri kekili atau boleh pula sampyan uras

12. Canang rebong
• Alasnya : dulang kecil
• Isinya :
dibagian tengah ditancapkan sebatang pohion pisang kecil
dipohon pisang tsb ditancapkan lidi-lidi berisi bunga serta seserojan (jejahitan paku pipid )
perlengkapan lainnya yaitu beras kuning, air cendana,lengawangi-buratwangi, tadah pawitra, masing-masing dg dialasi tangkih, pisang mas, jaja kekiping dan diatasnya disusuni bunga

13. Canang oyodan
• Alasnya : dulang kecil atau wakul lonjong
• Isinya :
dibagian tengah ditancapkan sebatang pohion pisang kecil
dipohon pisang tsb ditancapkan lidi-lidi berisi bunga serta seserojan (jejahitan paku pipid )
perlengkapan lainnya yaitu beras kuning, air cendana,lengawangi-buratwangi, tadah pawitra, masing-masing dg dialasi tangkih, pisang mas, jaja kekiping dan. ditambah pula dg sebuah tumpeng, nyahnyah gula kelapa (campuran ketan-injin –beras merah-beras putih-kelapa sisir-gula dicampur lalu dinyahnyah) diatasnya disusuni bunga


14. Canang berkat
• Alasnya : taledan janur maplekir atau 1 bh tamas (diameter 20 cm)diisi clemik
• Isinya :
cara meletakkan tetandingan dalam empat arah yaitu atas-bawah-kiri-kanan
a. Daun-daun kayu yg diperlukan :
- 4 potong daun selasih miik
- 4 potong daun beringin
- 4 potong daun ancak
- 4 potong blangsah pinang (buah)
- 4 potong kayu mas

b. Diatas daun-daun kayu tsb diisi :
- 4 bh tampelan
- 4 bh lekesan tali benang
- 4 bh leletan
- 4 bh tubungan

c. Bahan pesucian yg dimasukkan :
- 4 clemik boreh miik
- 4 clemik sisig + asem/tebu
- 4 clemik ambuh
- 4 clemik irisan daun pucuk
- 4 clemik minyak wangi

d. Bahan-bahan yg lain yg masuk :
- 4 clemik beras putih
- 4 clemik beras kuning
- 4 clemik kencur diiris
- 4 clemik tadah sukla
- 4 clemik nyahnyah gringsing
- 4 clemik ampo
- 4 clemik dedes rasmen
- 4 clemik kacang komak goring
- 4 clemik kacang putih goring
- 4 bidang kekiping
- 4 bh pisang mas
Setelah semua lengkap diatasnya ditutup dg 1 bh sampyan bundar besar yg diisi bunga dan kembang rampe

B. Daksina

1. Daksina alit
• Alasnya : sebuah bedoggan dimana pada dasarnya diisi tapak dara janur
• Isinya :
beras sejumput lalu ssebutir kelapa mapelut lalu dilengkapi dg kojong-kojong berisi :
- Pesel-peselan (dari daun manggis-ceroring-salak-mangga-durian)
- Gegantusan
- Sebutir telur itik
- Satu tampelan
- Tingkih
- Pangi
- Pisang kayu mentah
- Benang putih
Lalu dilengkapi dg canang payasan dan canang genten

2. Daksina linggih
• Alasnya : sebuah bedogan dialasi dg sangku perak/aluminium
• Isinya :
- Sebuah tapak dara
- Sejumput beras
- 1 buah kelapa mapelut
- 1 kojong telur itik
- 1 kojong Gegantusan
- Satu tampelan
- 1 kojong Tingkih
- 1 kojong Pangi
- 1 kojong irisan Pisang kayu mentah dan tebu
- 1 buah canang sari
- Benang putih
- 1 ikat uang lekeh ( berjumlah 11 )

3. Daksina pekala-kalaan
• Alasnya : sebuah bedogan besar dimana pada dasarnya diisi tapak dara janur
• Isinya :
beras sejumput lalu 2 butir kelapa mapelut lalu dilengkapi dg kojong-kojong berisi :
- 2 Pesel-peselan (dari daun manggis-ceroring-salak-mangga-durian)
- 2 Gegantusan
- 2 butir telur itik
- 2 tampelan
- 2 bh Tingkih
- 2 bh Pangi
- Pisang kayu mentah
- Benang putih
Lalu dilengkapi dg canang payasan dan canang genten

4. Daksina krepa
• Alasnya : sebuah bedogan besar dimana pada dasarnya diisi tapak dara janur
• Isinya :
beras sejumput lalu 3 butir kelapa mapelut lalu dilengkapi dg kojong-kojong berisi :
- 3 bh Pesel-peselan (dari daun manggis-ceroring-salak-mangga-durian)
- 3 bh Gegantusan
- 3 butir telur itik
- 3 bh tampelan
- 3 bh Tingkih
- 3 bh Pangi
- Pisang kayu mentah
- Benang putih
Lalu dilengkapi dg canang payasan dan canang genten

5. Daksina gede/galakan/pemogpog
• Alasnya : sebuah bedogan besar dimana pada dasarnya diisi tapak dara janur
• Isinya :
beras sejumput lalu 5 butir kelapa mapelut lalu dilengkapi dg kojong-kojong berisi :
- 5 bh Pesel-peselan (dari daun manggis-ceroring-salak-mangga-durian)
- 5 bh Gegantusan
- 5 butir telur itik
- 5 tampelan
- 5 bh Tingkih
- 5 bh Pangi
- Pisang kayu mentah
- Benang putih
Lalu dilengkapi dg canang payasan dan canang genten

C. Bebantenan

1. Banten danan
• Alasnya : 1 bh ceper bungkulan
• Isinya :
- 2 bh celemik atau 1 kojong rangkadan berisi kacang-saur
- 2 buah tumpeng
- Diisi raka dan jaja sekebis-sekebis
- Sampyan plaus lengkap dg porosan dan bunganya
- 1 tanding canang

2. Banten pejerimpen alit
• alasnya : 1 buah bedogan kecil
• isinya :
- raka dan jaja sekebis-sekebis
- 1 bh tunpeng kecil
- 1 kojong rangkadan
- Sampyan jerimpen alit berisi bunga dan porosan

3. Banten kawas/daun
• Alasnya :
1 bh taledan kawas yg mana pd bagian atas tengah dijahitkan 1 bh kekojong maikuh dg dilengkapi 1 bh porosan dan bunga.
Kemudian dibagian bawahnya dijahitkan 4 bh celemik
• Isinya :
Celemik no.1 berisi 1 bh kebeber putih polos dan 1 bh kebeber kuning mesari
Celemik no.2 berisi jajan kukus putih kuning
Celemik no.3 berisi lawar barak dan lawar putih
Celemik no.4 berisi sayur urab diisi nasi sasahan dan 1 bh sate kawas
Celemik no.5 ditengah-tengahnya diisi nasi sasahan dan 1bh sate kawas
Diatasnya dilengkapi dengan 1 bh canang

4. Banten peras
• Alasnya : sebuah taledan dan diatasnya diisi kulit peras
• Isinya :
- Beras sejumput
- Benang putih
- 1 bh tampelan
- 2 bh tumpeng/untek peras
- Tebu,tape,bantal
- Kojong rangkadan berisi rerasmen
- Raka-raka (pisang,buah dan jaja)selengkapnya
- Sampyan peras biasa aataupun sampyan pengambyan
- canang

5. Penyeneng
a. penyeneng teenan (bebuat)
• alasnya : ituk-ituk yg dibagian atasnya dijahitkan jahitan penyeneng
• isinya :
- beras dg benang tetebus putih
- nasi aon
- tepung tawar
b. penyeneng biasa
• alasnya : ceper bucu telu atau bias dg jembung
• isinya :
sampyan nagasari dijahit diatas alas kemudian ditambah unteng/tetuasan penyeneng
3 buah kekuwung
c. penyeneng terag (gede)
• alasnya : wakul
• isinya :
1. dasarnya adalah sampyan sreyok, dasar sampyan pengambyan
2. 3 batang kekuwung
3. Tetuasan ati
4. Tetuasan paku pipid
5. Tetuasan cemara
6. Tetuasan kepundung
7. Tetuasan cempaka
8. Tetuasan bungan isen
9. Tetuasan kukun rangda

6. Banten sodan/ajuman/ajengan/rayunan
• Alasnya : taledan, tamas, ceper dan sejenisnya
• Isinya :
- 2 bh penek
- Tebu
- Tape dan bantal
- Raka-raka
- Rerasmen dalam wadah celemik atau kojong rangkadan
- Sampyan soda/plaus/kepet-kepetan

7. Banten pengambyan
• Alasnya : taledan
• Isinya :
- Tumpeng 2 buah
- 1 bh tipat pengambyan diletakkan ditengah-tengah tumpeng
- 1 pasang tulung pengambyan diletakkan didepan tumpeng
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan pengambyan mesreyok
- 1 bh canang
- Raka-raka

8. Banten tulung
• alasnya : sebuah ituk-ituk ditempelkan 3 bh jejahitan tulung sangkur
• isinya :
- nasi dan rerasmen
- dapat pula dilengkapi dg sampyan plaus/payasan kecil lengkap dg bunga dan porosan
9. Banten sesayut
• Alasnya : sebuah kulit sesayut
• Isinya :
- Nasi maklongkong
- 1 bh kojong rangkadan lengkap dg rerasmen
- Raka-raka
- Sampyan nagasari lengkap dg bunga dan porosan


10. Banten dapetan
• Alasnya : sebuah taledan
• Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal tape
- 1 bh tumpeng
- 1 bh kojong rangkadan
- 1 bh sampyan jeet guak
- Sesedep yang berisi beras putih dan benang putih
- Sebuah penyeneng dan canang

11. Banten tumpeng pengapit
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 2 buah tumpeng
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan jeet guak
- Canang

12. Banten penyeneng
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 3 buah tumpeng
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan jeet guak
- Sebuah penyeneng
- canang


13. Banten guru
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 1 buah tumpeng guru (tumpeng besar dengan telur itik matang diujungnya)
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan jeet guak
- canang

14. Banten udel
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 1 buah tumpeng dibadannya ditusukkan ulam ati atau bias diganti dg bawang putih
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan jeet guak

15. Banten kurenan
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 2 buah tumpeng dikelilingi oleh 5 bh tumpeng kecil-kecil
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan pengambyan
- canang


16. Banten pengiring
• Alasnya : 1 bh taledan
• Isinya :
- 1 buah tumpeng
- Raka-raka selengkapnya
- Tebu,bantal,tape
- 1 bh kojong rangkadan
- Sampyan jeet guak
- canang

17. Banten saraswati
• Alasnya : tamas
• Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 celemik 1 celemik jajan cacalan bebikasan kedalamnya sejumlah 14 macam ( 9 yg putih, 5 yg kuning )
- 5 Celemik panca
- 3 celemik gegodoh – sengait – kekiping
- 7 celemik bahan pabresian payasan
- 1 limas janus berisi nasi bira
- 1 celemik berisi bubur precet
- 1 celemik berisi beras dan tampelan benang putih
- 1 bh ceper berisi jajan saraswati yg beralaskan 1 batang beringin yg berisi 5 lembar daun yg dipolesi bubur precet lalu dijarit
(Daun diujung dibentuk tampelan, 2 daun dibawahnya dibentuk rokok, 2 daun lagi dilepas /tak dijarit)
- Daun endongan yg dibuat : 2 dibentuk rokok, 1 dibentuk slekosan, kemudian ketiganya dijahit menjadi satu, didalamnya semua berisi bubur precet. Semua diletakkan dalam 1 buah ceper yg kemudian diletakkan dalam tamas itu juga.
- 1 celemik segara gunung yg bahannya dari temu-temuan, kelapa parut, biji delima, gula rontal, asem, bawang goring, ketan dan injin yg digoreng sangan lalu dialasi dengan limas.
- Sampyan nagasari
- Sesedep
- Penyeneng teenan
- Canang

18. Banten pejati
Terdiri dari :
- 1 tetandingan daksina lengkap
- 1 tetandingan banten soda/ajuman
- 1 tetandingan tipat kelanan (terdiri atas; sebuah ceper berisi tipat 1 kelan/6 buah dilengkapi dengan rerasmen dan canang)
- 1 tetandingan banten peras

19. Banten byakala
Alasnya : tempeh/sidi yang diberi taledan dari slepan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- Ditengah taledan diisi sejumput beras, benang, sebuah tampelan
- Diatasnya diberi kulit peras dari daun pandan berduri 3 muncuk
- Diatas kulit peras diberi nasi yang berisi garam dan dibungkus daub pisang dengan berbentuk slekos sumping (segiempat) dan sebuah lagi dibungkus daun pisang dibentuk segitiga
- Kojong rangkadan lengkap dengan rerasmennya
- Sasedep berisi beras dan benang putih
- Coblong berisi air dan sebuah padma
- 1 tanding canang pabersihan payasan
- 1 takir isuh-isuh berisi sapu lidi-tulud sambuk dan danyuh
- 1 takir benang merah
- Sampyan nagasari dari daun endong merah

20. Banten prayascita
a. Prayascita biasa

Alasnya : tamas sesayut, taledan sesayut
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- Nasi bundar maklongkong beralaskan jahitan bundar 5 lembar daun tabia bun dan dianasinya ditancapkan 3 pucuk daun dadap dan 3 pucuk padang lepas
- Kojong rangkadan
- 1 soroh tulung sayut
- 1 soroh pabresihan payasan
- 1 takir beras kuning
- 1 takir reringgitan
- Sampyan nagasari
- Sesedep
- Wadah uyah
- Penyeneng
- Padma dan coblong payuk prayascita
- Lis padma
- Canang

b. Prayascita sakti
(semua jejahitan terbuat dari janur kuning)
Alasnya : tamas sesayut mejaro dg kulit peras bundar ditengah-tengahnya
Isinya :
- Daun tabia 8 lembar dijarit
- Raka – selengkapnya
- Nasi bundar meklongkong berisi rerasmen dan diatasnya letakkan 5 iris telur dadar sesuai dengan pengider
- Kojong rangkadan
- Tulung sayut
- Pabresian payasan
- 1 tanding banten peras kecil
- 1 takir beras kuning
- 1 takir reringgitan
- 1 buah kelapa muda gading di kasturi
- Sampyan nagasari
- Sesedep
- Wadah uyah
- Penyeneng
- Padma dan coblong
- Lis padma
- Payuk prayascita

c. Prayascita luwih
Alasnya : tamas sesayut mejaro
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 buah sampyann tulung urip dengan ditengahnya diletakkan 1 buah tumpeng putih besar
- 1 kojong rangkadan
- 1 tulung sayut
- 1 pabresian payasan
- 1 takir beras kuning
- 1 takir reringgitan
- 1 kelapa gading dikasturi
- 1 payuk prayascita
- 11 tulung ngeleb berisi nasi dan kacang saur
- 11 buah kwangen
- 11 bh tipat gelatik
- 11 bh untek
- Sampyan nagasari
- Sesedep
- Wadah uyah
- Lis padma
- 11 tetanceb
- Canang sari

21. Durmenggala
Jejahitannya terbuat dari slepan matatad (tidak boleh dijatuhkan)
Alasnya : nyiru dg diisi taledan sesayut
Isinya :
- Raka-raka masing-masing macam jumlahnya lima-lima
- 1 bh tumpeng hitam (injin)
- 1 limas yg berisi b1 bh untek yg ditusukkan terasi dan yang satunya ditusukkan bawang jahe
- Kojong rangkadan
- 1 ekor ayam hitam dipanggang atau bias diganti dengan 1 bh telur bekasem
- 1 soroh tulung sayut
- 1 pabresihan payasan
- 1 daksina
- 1 takir berisi : 2 base tulak dan 1 pinang
- 1 kelapa muda hijau yg dikasturi
- 1 takir diisi isuh-isuh dan 1 telur ayam
- 1 bh lis amu-amuan
- Ketupat kelanan
- Taledan kecil berisi nasi Maura berisi kacang saur dan 1 bh tampelan (nasi lis) boleh diletakkan diatas kapar kecil berisi taledan
- 1 periuk tirta
- Coblong dan padma
- Sampyan nagasari
- Sesedep
- Wadah uyah
- Penyeneng
- Canang

22. Banten pejerimpenan
a. Jerimpen alit :
o Alasnya sebuah bedogan kecil
o Isinya raka-raka sekebis-sekebis
o 1 bh tumpeng kecil
o 1 kojong rangkadan
o Rerasmen
o Sampyan pejrimpenan

b. Jerimpen gede :
o Sebuah wakul
o Sebuah keranjang jerimpen dibungkus daun enau ataupun kain putih/kuning
o Pada wakul berisi tampelan, beras, benang, uang
o Aneka jajan uli atau begina dll
o Sampyan jerimpen

23. Pangulapan
Alasnya : ngiu dengan taledan sebagai alas banten
Isinya :
- Dibagian hulu banten pejati, pengambyan, sangga urip, babuu
- Bagian tengahnya banten sorohan alit
- Pabersihan
- Penyeneng
- Bagian hilirnya sebuah ceper berisi 11 tumpeng kecil dilengkapi dengan rerasmen
- Raka-raka
- Sampyan tumpeng

24. Satu soroh tulung sayut
Terdiri atas 4 jenis banten kecil yang diikat menjadi satu yaitu;
a. Sesayut
Alasnya : taledan sesayut bundar (kecil)
Isinya :
- Nasi sasah dg rerasmen
- Irisan tebu, pisang dan jajan uli

b. Peras
Alasnya : ceper
Isinya :
- Tumpeng lanying kecil 2 bh
- Rerasmen
- Irisan pisang, tebu, bantal-tape kecil serta sekebis jaja uli
- Sampyan pusung 2 bh
c. Danan
Alasnya : ceper
Isinya :
- Tumpeng lanying kecil 2bh
- Rerasmen dalam wadah celemik
- Irisan pisang, tebu, bantal-tape kecil serta sekebis jaja uli
- Sampyan danan
d. Tulung
Alasnya : wadah tulung
Isinya :
- Nasi sasah dengan rerasmen
25. Satu soroh sorohan
Terdiri atas 3 bagian tetandingan yaitu ;
a. Alasnya : Taledan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 bh ceper berisi 11 bh untek kecil-kecil
- 1 kojong rangkadan
- 1 tanding ketupat kelanan
- 1 soroh tulung sayut
- 1 pabresian payasan
- 1 penyeneng teenan/kecil
- 2 bh Sampyan pusung
- 2 bh sampyan gantung-gantungan
- 1 bh sangga urip

b. Alasnya : taledan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 22 bh untek alam 1 bh ceper
- Kojong rangkadan
- 1 tanding ketupat kelanan
- 1 soroh tulung sayut
- 1 pabresian payasan
- 2 bh sampyan pusung
- 2 bh gantung-gantungan
- 1 penyeneng teenan
- 1bh sangga urip
c. Alasnya : taledan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 bh ceper berisi 11 untek dan 11 tumpeng
- 1 kojong rangkadan
- 1 tulung sayut
- 1 pabresian payasan
- 2 bh sampyan pusung
- 2 bh gantung-gantungan
- 1 penyeneng teenan
- 1bh sangga urip
Semua tetandingan tersebut diisi canang kemudian ditumpuk jadi satu dan ditutp dengan sebuah taledan

26. Banten Kawas
Alasnya :
sebuah taledan yg dibag atasnya yaitu tengah-tengah dijahitkan 1 bh kojong meikuh dilengkapi dg bunga dan porosan. Dibawahnya dijahitkan 4 celemik
isinya :
- Celemik pertama berisi 1 bh kebeber putih polos dan 1 bh kebeber kuning
- Celemik kedua berisi jajan kukus putih kuning
- Celemik ketiga berisi lawar barak lawar putih
- Celemik keempat berisi sayur urab, nasi sasahan dan 1 btg sate kawas
- Ditengah-tengah diisi nasi sasahan dan 1 btg sate kawas
Untuk upacara yang lebih besar sayur-sayurannya ditambah dg daun-daunan yg lain seperti untuk suci seperti; daun karuk, daun keduduk, daun saman gigi, daun takep-takep, dll.

27. Dewa – dewi
Alasnya :
- tempeh berisi base tampelan, beras, benang, uang kepeng 450 dibagi 2 masing-masing 225 kepeng. Diatasnya diisi taledan kemudian dibungkus dengan kain putih.
- Diatasnya diletakkan 2 bh tamas/paso kecil
- Pd masing-masing tamas/paso diisi kelakat sudamala, purusha dan pradanan.
- Masing-masing kelakat diberi tangkai dg mengikat pd masing-masing sudutnya dan tangkai terletak ditengah-tengah menjulang keatas
- Perlengkapan dewa/purusha diletakkan disebelah kanan, letak daun diatur menelungkup
- Perlengkapan dewi/pradana disebelah kiri dan menengadah
- Pada masing-masing kelakat diletakkan daun pisang mas berbentuk tapak dara dan diatasnya diletakkan 8 lembar daun ancak mengarah ke 8 penjuru mata angin dan dijarit berbentuk padma
- Diatasnya disusuni 8 lembar daun medori putih, 8 lembar daun beringin sama-sama berbentuk padma
- Letakkan kwangen yg dilengkapi sesari 11 kepeng
- Diatas kwangen diisi kalpika 8 bh dari daun beringin diselingi 8 uang kepeng
- Kemudian disusuni 8 kalpika daun beringin diselingi 3 uang kepeng
- Pada puncaknya berisi tipat lingga dari daun lalang
- Setelah selesai kedua kelakat dihubungkan dengan benang putih satukel
- Disekitar dewa-dewi diatur runtutan bantennya al;
o Base tubungan dialasi limas
o Canang buratwangi lengawangi
o Rantasan putih kuning
o Kelapa gading dikasturi

28. Pagenian
Alasnya : tempeh berisi taledan daun andong merah
Isinya :
- Segehan nasi merah
- Ulam ayam biing/merah panggang
- Sampyan andong merah
- Daksina
- Sorohan alit
- Peras
- Pengambyan
- Tulung
- Sesayut
- Penyeneng
- Soda
- Suci
- Glar sanga

29. Suci
a. Suci Sibakan (Lekah)
Tamas I
Isinya :
- 5 bh tape dari daun nangka diletakkan ditengah tamas
- Samping kiri dan kanan diisi pisang satu-satu atau dua-dua
- 1 iris – 1 iris tebu diletakkan disamping pisang
- 5 celemik panca diletakkan dibagian bawah tamas
- 5 celemik bebikasan kuning, setiap celemik diisi dua-dua yg 1 macam diletakkan dekat panca
- 9 celemik bebikasan putih, setiap celemik diisi dua-dua yg 1 macam diletakkan dibagian atas
- Penangkeb suci letakkan dibagian atas : simbar dan kemimitan satu-satu
- Dibagian bawah ; klongkang dan anggur satu-satu
- Dibagian atas ; jajan uli merah dan putih serta satuh maikuh
- Dibagian bawah ; begina merah putih
- Paling atas diletakkan 1 tanding solasan
Tamas II Ngelampad
Isinya :
- Urab dulu sayur-sayuran untuk suci seperti nangka, papaya, kacang panjang, kecambah, pare, daun jepun, daun tabia bun, daun saman sigi, daun cendana, daun sikep-sikep
- Rerasmen ; kacang-kacangan digoreng, saur, telur dadar, sudang-sudangan, terung, ketimun, pelas, garam
- Nasinya lekah ; 1 ceper nasi untek yg beralaskan 1 lembar daun dadap
- Sayur-sayuran dan rerasmen diatur sedemikian rupa dengan celemik-celemik dan nasi untek yg beralaskan ceper taruh ditengah-tengah tamas
Jadi kedua tamas ditumpuk jadi satu dan diisi 1 tanding canang

b. Suci sari
Tamas I :
- 5 bh Pisang kayu masak
- 5 bh bantal
- 5 bks tape
- 5 bh jajan begina (warna putih dan kuning)
- 5 iris tebu
- Jajan sasamuhan putih kuning
(kabeber,kuluban,puspa,karna,panji,katibubuan udang, ratu magelung, candiraga, kerang, bungan temu, tiga getas, tuding, pahyasan, saraswati. Dengan perbandingan saat menata; 12:6, 9:5, 7:5, 5:4)
- Panca pala
- 5 bh canang berisi porosan
Tamas II :
- 4 bh tumpeng
- 1 bh tumpeng guru
- Nasi memakai limas berisi saur, telur dadar, kacang putih goring
Tamas III :
- Kacang putih, botor putih, komak, papaya, terung kanji, semua direbus . Daun – daunnya dipakai sayur dengan bumbu bawang putih, kencur tanpa terasi dialasi takir.
Diatasnya dilengkapi ;
o Sekul pinda
Alasnya ceper berisi 3 pulung nasi memakai alas celemik, isinya pisang kayu masak 3 bh dan madu 1 takir
o Sega taksisir
Alasnya memakai ceper berisi nasi aron-aron, kelapa diiris-iris, kacang komak digoreng dan disaur
o Nasi bira
Alasnya memakai ceper berisi nasi urab, kacang goring dan terung sutra direbus
o Sekul wedya
Alasnya memakai ceper berisi 3 pulung nasi putih yg diaru dengan empehan, dialasi daun bingin 3 lembar, diatasnya berisi 3 iris bawang dilengkapi ujung daun ambengan 2 lembar dan daun aa baas 3 lembar
o Nasi pahyasan
Alasnya memakai ceper berisi nasi, daun delima wanta, saur, telur dadar dan kacang mateng
Kelengkapannya ;
o Pisang matah
Alasnya memakai wakul kecil berisi kacang-kacangan serba mentah, pisang kayu mentah, tebu, porosan masing-masing 5 bh dan sampyan peras yg kecil
o Pisang lebeng
Alasnya wakul kecil berisi buah panca pala (5 jenis) masing-masing 5 iris, jajan sasamuhan, tape, bantal, tebu diatasnya sampyan nagasari
Runtutannya ;
o Canang buratwangi lengawangi
o Canang sari
o Canang gantal
o Daksina
o Peras
o Soda
o Tipat kelanan

c. Suci Tibaro
Tamas Tatampel :

- sama seperti yang ada di suci sari

Tamas Sradhu :
- isinya pisang kayu masak, tebu, tape, bantal, jajan begina masing-masing 2 bungkus
- jajan sasamuhan putih sebelah kanan, yang kuning di sebelah kiri diletakkan berpasangan, dilengkapi panca pala, pala bungkah dan pala gantung dan 2 bh canang porosan
Tamas III Babungkul :
- isinya sebuah tumpeng
- 1 celemik beras basah
- Telur itik direbus
- Jajan berbagai jenis
- Sebuah canang

Tamas Saraswati :
- Pisang, tebu, bantal, jajan begina masing-masing 5bh/bungkus
- Jajan sasamuhan putih dan kuning diletakkan berpasangan
- Jajan saraswati dialasi takir
- Bubur galeng, bubur lengen , telur kecet dibungkus daun beringin dan andong
- Pala bungkah, pala gantung dan canang porosan 5 bh

Tamas Rawit :
- Pisang, tebu, bantal, jajan begina masing-masing 3 bh/bungkus
- Jajan sesamuhan putih dan kuning diletakkan berpasangan
- Panca pala dan canang porosan 3 bh

Tamas Duma :
- Isen, kacang putih, kacang botor, komak putih direbus, masing-masing dialasi celemik dengan diatasnya dilengkapi;
o Rujak segara gunung
Dibuat dari jenis-jenis temu, kelapa parut , buah delima, gula ental, asem, bawang goring, nyahnyah ketan, injin dialasi limas
o Tadah pawitra
o Nasi pradnyan
Alasnya memakai ceper berisi jajan kukus ketan, injin, bunga delima, kelapa direbus, bawang goring dan garam wuku
o Bubur Sasuru
Alasnya memakai ceper berisi bubur beras dialasi karton dan daun ancak ditancapi padang lepas
o Bubur Jrenang
Alasnya ceper berisi bubur catur warna dan baem warak serta santan 1 takir
o Bubur Pirata
Alasnya ceper, kemudian daun medori 11 lembar berisi bubur 11 sendok, disusuni padang lepas dan daun ambengan
o Sajen
Alasnya celemik berisi batu celagi (asam) dinyahnyah ditumbuk halus
- Tamas Guru
Isinya sama dengan tamas guru pd suci sari
- Tamas Wedya
Isinya sekul wedya terdiri dari abugala, abugasri, lempog, sega, taksisir, bubur jrenang
- Tamas Lampadan
Isinya sama dengan pada suci sari
- Tamas Sancak
o Isinya mentimun ditimur 5bh/iris
o Salak di selatan 9bh/iris
o Nagka di barat 7 bh/iris
o Mangga di utara 4 bh/iris
o Pisang berwarna di tengah 8 bh/iris
- Runtutannya ;
o Guling itik putih jambul
o Sekul gurih
o Punten
o Jumlah jajan 206
o Pelengkap Catur Niri dan Catur Muka
o Pisang matah 2 tanding
o Pisang lebeng 2 tanding

30. Catur
a. Catur Sari
b. Catur Rebah
Alasnya : tamas catur
Isinya :
- Tamas pertama untuk tempat nasi atau penek
- Tamas kedua untuk tempat rerasmen dan ulam
- Tamas ketiga untuk raka-raka masing-masing 2 bh, kemudian diatasnya disusuni kain (tigasan) serta canang tubungan 4 bh dan tiap canang menggunakan warna bunga 1 macam yaitu putih, merah, kuning atau hitam).
Minyak wanginya dibuat dari kelapa bulan, udang, gading dan hijau (mulung).

c. Catur Niri
Alasnya :
tamas catur 12 buah dan tiap warna dialasi tersendiri (dg jumlah pd masing-masing arah adalah 3 bh
Isinya :
- Isinya sama dengan catur rebah namun jumlahnya disesuaikan dengan jumlah urip pangider-ider buana
- Perlengkapan lain pada banten catur ;
o Maduparka, empehan, baem warak
o Jika digunakan sbg pasaksi maka dilengkapi dg banten Guru, Panca Saraswati dan banten Ghana.

31. Banten Ancak
Alasnya : taledan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 bh tumpeng dialasi daun ancak
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

32. Banten Bingin
Alasnya : taledan
Isinya :
- Raka-raka selengkapnya
- 1 bh tumpeng dialasi daun bingin
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang


33. Banten Ungang
Alasnya : taledan
Isinya :
- 1 bh tumpeng dialasi daun ancak
- Raka-raka selengkapnya
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

34. Banten Tagog
Alasnya : taledan
Isinya :
- 1 bh tumpeng dipangkalnya dibuat gua
- Raka-raka selengkapnya
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

35. Banten Bulakan
Alasnya : taledan
Isinya :
- 1 bh tumpeng yg disampingnya diletakkan takir berisi air
- Raka-raka selengkapnya
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

36. Banten Pancoran
Alasnya : taledan
Isinya :
- 1 bh tumpeng yg ditengah-tengahnya diisi sidu dari janur sbg mulut pancoran
- Raka-raka selengkapnya
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

37. Banten Pengebek
Alasnya : taledan
Isinya :
- 5 bh tumpeng putih
- Raka-raka selengkapnya
- kojong rangkadan berisi rerasmen
- Sampyan jeet guak
- Canang

38. Banten Guru
- Jenis jajan dan perlengkapannya sama dengan banten catur hanya saja warna yg digunakan putih saja dan bilangan yg digunakan 8 dan 16 sesuia dengan tingkatan upacara.
- Nasinya berbentuk tumpeng dan pada puncaknya diisi telur itik direbus.
- Ulamnya itik putih maguling
- Cara mengaturnya ; dapat dijadikan satu dan dapat pula dipisahkan antara nasi dan ulam dengan raka-raka memakai alas sendiri-sendiri.
- Banten guru dihaturkan kepada Bhatara Guru (Bhatara Siwa)
- Bila pd upacara besar dengan sanggar pasaksi rong tiga maka Banten Guru diletakkan di tengah bersama Banten Catur yg berwarna putih dan kuning.

39. Banten Panca Saraswati
- Banten ini hamper sama dengan banten Catur, hanya saja perlengkapan satu jajannya berwarna lima yaitu ; putih, merah, kuning, hitam dan brumbun.
Warna brumbun sering digantikan dengan warna putih sehingga dalam banten terdapat 2 jajan berwarna putih, satu di timur dan satu lagi ditengah.
- Pada upacara besar, perlengkapannya akan dipisahkan tiap warna disesuaikan dengan arah namun bila upacara biasa perlengkapannya dijadikan satu tempat kecuali nasi dan rerasmennya
- Banten ini dihaturkan kepada Dewi saraswati.

40. Banten Ghana

- Banten ini hamper sama dengan Banten Guru
- Alasnya memakai tempeh bergambar Ghana dilengkapi dengan tali kubal, sedangkan pd banten guru memakai padma
- Banten Ghana memakai pisang kayu 1 ijas berisi 16 atau 20 direbus sedangkan banten guru tidak ditentukan, asal dipandang suci
- Banten Ghana memakai bantal rinji dibuat secara khusus dari ketan gajih dicampur parutan kelapa gading dibungkus janur kelapa gading serta diikat tali kubal
- Pada upacara besar dilengkapi dengan jajan berbentuk Ghana dan yg menggorengnya adalah pendeta tapi pd banten guru tidak
- Banten Ghana menggunakan bunga gambir, pada banten guru hanya ditentukan warnanya putih
- Banten Ghana tak selalu menyertai banten Catur namun banten Guru selalu
- Banten Ghana menggunakan bendera Ghana , banten Guru tidak
- Banten Ghana ditujukan kepada Dewa Ghana.
- Terdiri dari 2 jenis yaitu Ghana Alit dan Ghana Pikulan. Ghana pikulan digunakan pd upacara besar disertai dengan pamogpog terdiri dari ; beras, kelapa, telur itik, ayam, pisang, gula merah serta buah-buahan serba mentah dan tiap jenis 10 catu, ekor.

Rabu, 22 Juli 2015

Purwa Bumi Kemulan

LONTAR PURWO BUMI KAMULAN



LONTAR PURWO BUMI KAMULAN (MWBW)


LONTAR TATTWA PURWA BUMI KAMULAN

Purwa Bhumi Kamulan termasuk kelompok lontar Tattwa.

Lontar ini berisi ajaran tentang penciptaan dunia yang diuraikan secara mitologis. Seluruhajarannya bersifat Siwaistik. Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :oBhatara Bhatari adalah dua sumber kekuatan yang mula-mula ada. Darikekuatan yoga Bhatari terciptalah Dewata, Panca Resi, dan Sapta Resisebagai isinya dunia.o Pada tahap berikutnya barulah diciptakandunia. Gangga tercipta dari cucuran keringat. Samudra tercipta darigaram yang keluar dari badan. Prathiwi tercipta darigaram yangkeluar dari badan. Selanjutnya Sanghyang Dharma menciptakan"Mahapadma", Matahari, Bulan, Panca mahabutha dan Catur Pramana.oSetelah itu, Bhatari Uma merubah wujudnya sebagai Durga. Bulu-bulubadannya diciptakan sebagai Kala sumber kejahatan didunia. Dengankekuatan yoganya, Durga menciptakan semua isi samudra (ikan dsb.nya).oBhatari Guru kemudian turun ke bumi sebagai Bhatara Kala karenatertarik oleh kekuatan pandang Bhatari Durga. Dan dengan kekuatanyoganya Bhatara Kala menciptakan Kala. Manusia adalah santapan BhataraKala. Manusia yang disantap adalah :o Orang yang lahir pada wuku carik (wuku wayang).o Kadana Kadani (kembar siam)o Bersaudara Limao Tunggak Wareng (tus tunggal)o Unting-unting (?)o Uduh-uduh rare bajang (?)oSelanjutnya Bhatara Kala turun ke dunia membuat tempat pemujaan. Begitupula Brahma, Wisnu dan Iswara diperintahkan turun ke dunia. Brahmasebagai Brahmana. Wisnu sebagai Bhujangga. Iswara sebagai Resi.oBrahmana, Bhujangga dan Resi diberi tugas oleh Bhatara Kalamenghaturkan sesaji kepada dirinya dan Bhatari Durga dan meruwatsepuluh jenis kekotoran (manusia).o Itulah permulaan manusia memujaTuhan. Bhatara Kala dan Bhatari Durga tidak lagi menyantap manusia.Rupanya yang mengerikan kembali seperti semula sebagai Guru dan Uma,kembali ke Siwapada.

TEKS

Om purwa bhumi kamulan, padukaBhatari Uma; mijil saking limo-limo nira Bhatara guru. Mulaning hanaBhatari minaka somah Bhatara ; mayoga sira Bhatari.

Mijil tasira dewata, Panca Resi, Sapta Resi; Kosika, sang Garga, Maitri,Kurusya, sang Pratanjala. Kosika wikan padyargha, sinapa deningBhatara; mijil ta sang hyang Kosika, sakeng kulit sangkanira.

Mijilta sira sang Garga, sakeng daging sangkanira; mijil ta sira sangMaitri, sakeng otot sangkanira. Mijil ta sang hyang Kurusya, sakengbalung sangkanira, mijil ta sang Pratanjala, sakeng sumsum sangkanira.Genep isi ning bhuwana, apan sampun winastonan; ingutus ikang Bhatara,kalih lan sira Bhatari.

Kinon sira (ng) gawa loka, neher sirasinanmata, kang wikan patengranira, sina pa de Bhatara. Kosika mlesatmangetan, matemahan dadi dengen, sang Garga mlesat mangidul, matemahandadi sang mong.

Sang Maitri mlesat mangulon, matemahan dadi ula,Kurusya mlesat mangalor, matemahan dadi bwaya. Pratanjala mlesat (ring)madhya, matemahan hyang kurma raja, ingutus sang Pratanjala, tumurunmanggawe loka. LUmampah nda tan parowang, ingutus Bhatari Uma; deningpaduka Bhatari, tumurun sang Pratanjala. Neher amit anganjali, Bhataralawan Bhatari, angadeg sireng pantara, awang-awang uwung-uwung. Tanhananing sarwa katon, tan hana ning sarwa umung. Ahening cipta Bhatari,alekas anggawe loka, maka daging ing bhuwana, kalih lan sang Pratanjala.

Karingetakuyu-kuyu, adres titis ing sarira. Tumiba mangkeng Bhatari, mijil taBhatari gangga. Mulanira duk samana. Asat karinget Bhatari; metu uyahsaking awak, ginutuk ta sepet asin. Tumibeng Bhatari gangga, mijilBhatari samudra; dinulu awak Bhatari, metu lemah saking awak. TumibengBhatari samudra, mijil Bhatari prathiwi; sarimbag loning prathiwi,sa-payung lo ning akasa. Mulanira duk samana, mayoga ta sira muwah,alekas anggawe loka ......

Yoganira sanghyang Dharma mijil tekang maha padma, maka sesek ing bhuwana.Mijilta radtya wulan, maka suluh ing bhuwana; mijil lintang taranggana, makatulis ing bhuwana. Mijil panca maha Bhuta, maka urip ing bhuwana; mijilta catur pramana apah, teja, bayu akasa. Urip ing anda bhuwana sampunapasek; mangke punang jagat traya apan sampun sirayoga.

DineloBhatari Uma, satampakira Bhatari: hana putih, hana abang, hana kuning,hana ireng. Kaget Bhatari Sri Uma, agila tuwon ing awak, neher masihnadah janma, mangerak masingha-nada; waja masalit masiyung, tutukilwirjurang parah ro; netra kadi Surya kembar, irung kadi sumur bandung;kuping Iwir leser ing pa (ha;roma...agimbal;awak awegah aluhur, luhur iratan pantara; tutug ing anda bhuwana, tutug madhya ning akasa; sira taBhatari Durga, aranira duk samana.

Satinggal Bhatari Durga,ayoga saang wado Kala; wulune ginawe ala, lanang wadon warna nira. Padasampun wnastonan, sampun pinugrahan aran, kunang tetendahanira, sicabora, si cabori, si bragla, si bragali, si sanaka, si sanaki, sidurana, si durani, si kaleka, si kaleki, si gondala, si gondali, sibetala, si betali, garbhayaksa, garbhayaksi, galungan panadah Kala.Pangawaking Kala braja, besawarna mandi-jati, pepelika, pepeleki, agungalitwarna nira.

Yoga ning Bhatari Durga; ri sampunira mayoga,lumebu sireng samudva, mayoga sira irika. Isining dalem samudra, mijiltekang sarwa rupa, duyung kuluyung lan prang-prang, tangiri Kalawanbuntek. Tan ilang takonakena.

Genep kabeh punang warna, YoganingBhatari Durga, dineleng sireng bhuwana, tutug madhya ning akasa.Tuminghal (ta) Bhatara guru, turun sira sakarengan, mayoga ta siramuwah, matemahan metu Kala. Mangerak masingha-nada, waja masalitasiyung, tutuk lwir jurang parongbrong, netra kadi Surya kalih. Irungkadi sumurbandung, kuping lwir lalar ing pandung, roma akepel agimbal, awak awegah aluhur.

Luhuriratan pantara, abang tutug ing bhuwana, tutug madhya ning akasa, sira taBhatara Kala. Sira ta Bhatari Uma, aranira duk samana, mayogasa-wadoKala, lanang wadon warnanira. Bhuta bhuti, yaksa yaksi, pisacaBhuta manganti, maha Bhuta, panca Bhuta,pulung dara (h), pulung dari(h), dewa dengen, Bhuta dengen, daitya, wil lawan danawa, mrajapatianggapati. Kekeliki, pepelika, pepeleki, agung alit warnanira, yoganing Bhatara Kala.

Ri sampunira mayoga, mangher po sira ringgunung, hyang sangkara naminira, mangher po sira ring alas. Bhutabanaspati raja, banasati sireng kayu, singha-Kala sireng lemah, Kalawisesaa ring akasa. Bhuta lamis sireng watu, Wisnu pujut sreng wengi,bangbang pita ring rahina, Kala nundang sireng dalan. DoraKala sirenglawang, hyang maraja sreng natar, Bhuta suci sireng sanggar, Bhutasayah ring balyagung. Kala graheng pamanggahan, Bhuta ngandang simpangawan, Kala dungkang sireng batur, Bhuta duleg sireng longan, Bhutandelik sireng galar, Bhuta gumulung ing klasa, Bhuta jempang sirenggaleng, Bhuta asih ring paturon. Kala mukti sireng pawon, Bhuta ndelepsireng dengen, Kala sakti sireng sanggar, Kala nembah taretepan, Kalanginte sireng pager, Kala ngintip sireng tampul, doraKala sirenglawang, Bhuta ngingel Siwawalan, Bhuta ninjo ring gugumuk, Bhuta ngilosireng sumur, Bhuta mangsa sireng sema, Bhuta boset pabajangan, Bhutarerengek ring wates, Bhuta ulu sireng pakung, Bhuta edan (ring) dalanagung, Bhuta wuru sireng sajeng, Bhuta bloh (sir) eng dalanagung, Bhuta logok (sir) eng tapan, Bhuta bega pamidangan, Bhuta cantulengpasajnan, Bhuta simuh sande kawon, Bhuta ngoncang sireng lumpang, Bhuta ngadusireng lebuh, kuncang-kancing ring padangan Bhuta grawang Umah suwung, Bhutalawang paciringan, Bhuta lepek paperangan, Bhuta rangregek (sir) eng wates, Bhutatulu (s) sireng pangkung,Kala-kali ring pajuden, singanjaya ring Kalangan, Kalaedan sireng pasar, sid (dh) a-kara ring patamon, Bhuta dengkol sireng dagan, Kalamendek ring paseban, Bhuta asih ring paturon, Kala mukti pabetekan, Kaladengsek pabajangan, Kala dekek sireng sendi.

DinelengBhatari Durga, mentas ta saking samudra, sareng lan Bhatara Kala, apata jalukanira? Abhasma sira rudhira, kapala ganitri nira, usus tasandangan-ira, asampet sira bang ireng. Ingemban ingiring-iring, deningwado Kala nira, tan sah ring pasanak ira, angher po sira ring setra.Setra wates pabajangan, kepuh randu kurambiyan, ingayap ing wado Kala,dremba moha nadah janma. Ulih ing anggawe loka, tinadah rahina wengi,binuru inguyang uyang, dening wado Kala nira.

Tinututsa-paranira, tinadah rahina wengi, kuneng kang tinadah ira, enaknyaanadah jalma. Tan salah tinadah-ira, janna wetu wuku carik, wuku wayangwuku nira, kadana (n) lawan kadini. Pandawa lawan metuwang, tunggakwareng, unting-unting, uduh-uduh rare bajang, tinadah rahina wengi.Mangkin krodha Sanghyang Kala, tumurun sira sakareng, angadeg ringsunyantara, anggawe sanggah pamujan.

Neher ta ginawe nira,Brahma, Wisnu, Maheswara, tumurun ring madhyapada, arddha moho'nggawemanusa. Hyang Iswara dadi Resi, Hyang Brahma dadi Brahmana, Hyang Wisnudadi Bhujangga, ya tha sira mangkengutus, dening pada nira Sanghyang,ngaturaken tadah saji, sari genep saji nira, sampun ta mangkewinastwan. Dening pada nira Sanghyang, Brahmana, Bhujangga, Resi, SaiwaKalawan Saugata, anglukata dasa mala.Anadah Bhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga, tok sekul Kalawan ulan, sarwa genep kang tadahan. Tan ilang takonakena.

DatengeBhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga, angadeg ing puspa-kaki, ingayaping wado Kala, garjita tumon ing (ta) tadah (an), tan ilang takonakena.Ingundang ing japa mantra, tinabuhan genta-genti, unung kang gentaoragan, sangka umung tan pantara. Tutug teka ring akasa, siniratansekar ura, candana la (wa)n wija kuning, damar murup lawan dhupa. Kukussakeng dhupa panggi, tutug teka ring akasa, mrebuk arum kang bhuwana,kongas tekeng windu-pada.

Mulaning hana amuja, kang manusengmadhya-pada, tadahan Bhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga. Neher sirasiramanya : manusa ring madhya-pada, Purnama Kalawan Tilem, tan kasapade Hyang Kala, tan kasapa de Hyang Durga, Tan katadah de Hyang Kala,lan katadah de Hyang Durga, pan sampun sinuddha-mala, deni wastu niraSanghyang. Ilang tekang rupa juti, waluya atemahan jati, Hyang Kalatemahan Guru, Hyang Durga temahan Uma. Mantuk mareng Siwapada; kalihlan Bhatari Uma; deni wastu nira Sanghyang, lukat sira Sang linukat.Lukat sira sang anglukat. Dewa sira sang linukat, hana sireng Siwapada,mantuk sira mareng swarga.Angiring ing pada Sanghyang, angadeg ingSuryapada; Kosika mulih mangetan, matemahan Hyang Iswara. Sang Gargamulih mangidul, matemahan Bhatara Brahma; Sang Maitri mulih mangulon.Matemahan Hyang Mahadewa. Kurusya mullih mangalor, matemahan BhataraWisnu, Pratanjala mulih (ring) madhya, matemahan Bhatara Siwa. Sakwehikang wako-Kala, matemahan Widyadhara; manadi Yaksa klawan Yaksimatemahan Widyadhari.

Sami mantuk mareng swarga, angiringpaduka-nira, dening wastu nira Sanghyang, mulih kuneng jati purna.Manusa sami kalukat, mantuk maring Siwapada, sampun pada ingastonan,,ilang tekang rupa juti, waluya atemahan jati, dening wastu iraSanghyang, alinggih ing sthana nira, enang-ening rupa jati.


TERJEMAHAN

Om, Purwa Bhumi Kamulan (awal mula dunia).Yang Mulia Bhatari Uma, lahir dari pergelangan kaki Bhatara Guru.

Mula-mulayang ada adalah Bhatari, sebagai permaisuri Bhatara . BeryogalahBhatara dan beryoga pula Bhatari. Lahirlah para dewata, panca resi,sapta resi; Kosika, Sang Garga, Maitri, Kurusya, Sang Pratanjala Kosikapandai dalam hal padyargha, (dankemudian) dikutuk oleh Bhatara; Sanghyang Kosika lahir dari kulit. (Kemudian)Sang Garga lahir dari daging. Sang Maitri lahir dari otot. Sanghyang Kurusyalahir dari tulang. Sang Pratanjala lahir dari sumsum. Maka lengkaplah isinyadunia (Bhuwana), sebab telah diisi. Kemudian Bhatara dan Bhatari disuruhmembuat dunia, kemudian ia dinobatkan dan namanya sangat terkenal, dan kemudiandi kutuk oleh Bhatara.

Kosikapergi ke timur, berubah menjadi dengen. Sang Garga pergi ke selatan ,berubah menjadi harimau. Sang Maitri pergi ke barat berubah menjadiular. Kurusyapergi ke utara berubah menjadi buaya. Pratanjala pergi ke tengah , berubahmenjadikura-kura besar. Sang Pratanjala diutus turun membuat dunia. Berjalandengan tanpa teman, (karena) diutus oleh Bhatari (Uma), maka turunlahSang Pratanjala. Lalu menyembah dan mohon diri (ke hadapan) Bhatara danBhatari. Berdirilah ia di antara langit yang kosong. Tidak ada sesuatuyang tampak, tidak ada sesuatu yang bersuara. Maka pikiran Bhatarimenjadi hening, lalu mengeluarkan mentra-mentra untuk menciptakandunia, beserta isinya dunia, bersama dengan sang Pratanjala.

Keringatmengalir dengan deras membasahi badan. Kemudian jatuh menimpa Bhatari(Gangga), maka keluarlah Bhatari Gangga. Pada awal mulanya ketika itu,keringat Bhatari mengering, maka keluarlah garam dari badan yangrasanya sepat dan asin, jatuh menimpa Bhatari Gangga, lalu kelurlahBhatari Samudra; dilihatnyabadan Bhatari, keluarlah tanah dari badan, jatuh menimpa Bhatari Samudra,(maka) keluarlah Bhatari Prthiwi; (kemudian) dataran bumi menjadi melebar,berpayungkan hamparan langit yang lebar. Padaawal mulanya ketika itu, beliaukembali beryoga, mengucapkan mentra untuk membuat dunia.Dari yoga Sanghyang Dharma, keluarlah maha-padma, sebagai pelengkap dunia.Kemudian keluarlah matahari dan bulan sebagai penerang dunia; keluar gugusanbintang-bintang, sebagai hiasan pada dunia. (Kemudian) keluar Panca MahaBhuta,sebagai jiwanya dunia; (kemudian) keluar catur pramana (antara lain) apah,teja, bayu dan akasa. (Sehingga) jiwa anda bhuwana menjadi lengkap dan kuat;dan sekarang ketiga dunia (menjadi sempurna), oleh yoga beliau. Dipandanglah BhatariUma, setiap yang disentuh oleh Bhatari, ada putih, ada merah, ada kuning danada yang hitam.

Tiba-tibaBhatari Sri Uma menjadi murka melihat wujud dirinya, lalu tumbuhdorongan untuk memakan manusia, lalu berteriak bagaikan singa meraung.Gigi dan taringnya panjang. Mulutnya bagaikan jurang terbelah dua. Matabagaikan matahari kembar. Hidung bagaikan sumur kembar. Telingabagaikan paha berdiri tegak. Rambut digulung, badannya tinggi besar,tingginya tidak terkira, dari anda bhuwana (Bulatan bumi) sampai kepertengahan langit, beliaulah Bhatari Durga, namanya saat itu. Semuaabdi Bhatari Durga, dan abdi-abdi Sang Kala melakukan yoga;bulu-bulunya dijadikan(sumber)kejahatan, berwujud laki maupun perempuan.

Semuanyasudah diisi dan sudah dianugrahi nama. Adapun nama-namanya adalah SiCabora, Si Cabori, Si Bragala, Si Bragali, Si Sanaka. Si Sanaki, SiDurana, Si Durani, Si Kalika, Si Kaleki, Si Gondala, Si Gondali, SiBetala, Si Betali, Si Garbhayaksa, Si Garbhyaksi, semuanya berpestapada Galungan.Perwujudan Kala Braja, Besawarna yang amat sakti,Pepelika, Pepeliki, ada yang besar dan ada yang kecil wujudnya, YogaBhatari Durga.

Setelah beliau beryoga, kemudian menyelam kedalam samudra, di sana beliau beryoga. Semua isi samudra lalu keluardalam bentuk aneka rupa seperti : ikan duyung, ikan hiu, dan ikangergaji, ikan tengiri dan buntek (ikan pendek besar mengandung racun).Dan masih banyak lagi dengan nama masing-masing.

Bhatari Durgaberyoga, dipandangnyalah dunia, tembus sampai kepertengahan angkasa.Bhatara Guru melihat, lalu seketika beliau turun. Kemudian beliauberyoga lagi, akhirnya lahirlah (para) Kala. Berteriak bagaikan singameraung, gigi dan taringnya panjang, mulut bagaikan jurang menganga,mata seperti matahari kembar, hidung bagaikan sumur kembar, telingabagaikan rambut diurai, badan tinggi besar. Tingginya luar biasa, bumimenjadi merah, tembus ke pertengahan langit, beliaulah Bhatara Kala.

BhatariUma nama beliau tatKala itu. Para Kala pembantu (beliau) baik yang lakimaupun tatKala itu. Para Kala pembantu (beliau) baik yang laki maupunyang perempuan beryoga. Bhuta Bhuti, Yaksa Yaksi, Pisaca Bhutamenyertai, Maha Bhuta, Panca Bhuta, Pulung Dara (h), Pulung Dari (H).Krti Dara (h), Krti Dari (h), Dewa Dengen, Bhuta Dengen, Daitya, Wil,serta Danawa, Mrajapati Anggapati. Kekelika, Kekeliki, Pepelika,Pepeleki, ada yang besar ada yang kecil bentuknya, yoga Bhatara Kala.Setelah beliau beryoga, lalu beliau tinggal di gunung. Hyang Sangkaranama beliau, (ketika) beliau tinggal di hutan. Bhuta Banaspati,Banaspati pada kayu. Singha Kala pada tanah. Kala Wisesa pada langit.Bhuta Lamis pada batu. Wisnu Pujut pada malam hari. Bangbang Pita padasiang hari. Kala Nundang pada jalan. DoraKala pada pintugerbang. Hyang Maraja pada halaman. Bhuta suci pada sanggar. Bhuta Sayah padaBale agung. Kala Graha pada Kuburan (pemanggahan). Bhuta Ngadang padapersimpangan jalan. Kala Dungkang pada bangunan suci (batur). Bhuta Duleg dibawah tempat tidur. Bhuta Ndelik pada bilah-bilah bambu alas tikar pada tempattidur (galar). Bhuta Gumulung pada tikar pandan yang dianyam halus (klasa). BhutaJempang pada bantal. Bhuta Asih pada tempat tidur. Bhuta Delep pada tugupekarangan (dengen). Kala Sakti pada tempat suci (sanggar). Kala Nembah padacucuran atap. Kala Nginte pada pagar. Kala Ngintip pada tiang rumah. DoraKalapada pintu gerbang. Bhuta Ngigel pada orang kerasukan. Bhuta Ninjo padagundukan tanah diatas kuburan. Bhuta Ngilo pada sumur. Bhuta Mangsa padakuburan Bhuta Boset pada kuburan anak-anak. Bhuta Reregek di perbatasan. BhutaUlu pada jurang. Bhuta Edan pada jalan besar. Bhuta Logok pada pertapaan(tapan?). Bhuta Bega pada pamidangan (?). Bhuta Cantula pada balai pertemuan. BhutaSimuh pada waktu senja. Bhuta Nguncang pada lesung. Bhuta Ngadu pada jalan didepan rumah. Kuncang Kancing pada padangan (?) (alat dapur?). Bhuta Grawangpada rumah kosong. Bhuta Lawang pada Gang. Bhuta Lepek pada medan perang. BhutaRengregek di perbatasan. Bhuta Tulus pada jurang. Kala Kali pada perjudian.Singanjaya pada arena perjudian. Kala Edan pada pasar. SiddhaKala padapertemuan (patamon). Bhuta Dengkol pada kaki tempat tidur. Kala Mukti padadapur. Kala Dengsek pada kuburan anak-anak. Kala Dekek pada dasar tiang rumah.

DipandangnyaBhatari Durga, lewat samudra, bersama dengan Bhatara Kala. Iamenggunakan darah sebagai basma. Ganitrinya tengkorak manusia. Ususselempangnya. Berselendang berwarna merah dan hitam. Diasuh dan diantaroleh para hambanya (yang terdiri dari) para Kala, tidak jauh dari sanaksaudaranya, lalu ia menuju kuburan.Di perbatasan kuburan anak-anak,(pada) pohon kepuh dan randu yang rindang. Dipuja oleh para Kala yangmenjadi hambanya, dengan seperti orang mabuk memakan manusia. Upahmenciptakan dunia, dimakan., siang dan malam, dikejar dan diperangkap,oleh para Kala yang merupakan para hambanya. Kemana pergi dikejar,dimakan siang dan malam. Adapun manusia yang dimakan dengan enaknya.Tidak lain yang dimakan adalah orang yanglahir pada Wuku Carik, yaitu orang yang lahir pada Wuku Wayang, lahir kembarsiam (kadana-kadini), bersaudara lima, tunas tunggul (tunggak wareng), unting-unting(?), (itulah yang) dimakan siang dan malam. Sekarang Sanghyang Kala marah,seketika ia turun, berdiri diantara dunia yang sepi, membuat sanggar pemujaan.Lalu diciptakan Brahma, Wisnu dan Maheswara, kemudian turun kedunia,berkehendak menciptakan manusia. Hyang Iswara menjadi Resi. Hyang Brahmamenjadi Brahmana. Hyang Wisnu menjadi Bhujangga. MereKalah kemudian yang diutusoleh Tuhan (Sanghyang), (agar) menghaturkan sajen, segala jenis sajen yanglengkap. Sekarang sudah ditegaskan; oleh Sanghyang, (bahwa) Brahmana,Bhujangga, Resi, Siwa dan Sogata, (boleh) meruwat sepuluh jenis kekotoran.

BersantaplahBhatara Kala bersama dengan Bhatari Durga, tuak, nasi, dan ikan,berjenis-jenis hidangan lengkap. Dan banyak lagi namanya yang lain.Kemudian Bhatara Kala datang, bersama dengan Bhatari Durga, berdiridiatas tangkai bunga, dipuja oleh para Kala yang merupakan hambasahayanya, sangat senang hatinya, melihat hidangan. Diundang denganjapamantra, diiringi suara genta yang tiada putus-putusnya, suara gentaoragan riuh, suara sangka riuh tidak henti-hentinya. Tembus sampai keangkasa, ditaburi dengan bunga-bungaan, cendana dan bija berwarnakuning, pedupaan dan dupa menyala. Asap dupa panggil tembus sampai keangkasa, bumi jadi harum semerbak bahkansampai ke Windu Pada. (Itulah) awal mulanya adanya manusia dibumi memuja,mempersembahkan sesajen kepada Bhatara Kala, dan kepada Bhatari Durga. Lalu iaberjanji, bahwa setiap Purnama dan Tilem manusia di bumi tidak dikutuk oleh BhataraKala dan tidak pula dikutuk oleh Bhatari Durga. Tidak disantap oleh Hyang Kala,dan tidak pula dimakan oleh Hyang Durga, sebab sudah disucikan kekotorannyaoleh berkat Sanghyang (Tuhan).

Rupanyayang mengerikan kemudian hilang, kembali seperti semula. Hyang Kalamenjadi Bhatara Guru, Hyang Durga menjadi Bhatari Uma. Pulang menujuSiwa-pada (tempatnya Siwa), bersama dengan Bhatari Uma, oleh karenaberkat. Sanghyang,(akhirnya) teruwat juga orang yang diruwat. Yangmeruwat juga teruwat. Yang diruwat adalah Dewa, beliau ada diSiwa-pada. Ia kembali menuju sorga. Setia pada Sanghyang (Tuhan),tinggal di Surya-pada. Kosika kembali ke timur menjadi Hyang Iswara.Sang Garga kembali ke selatan menjadi Bhatara Brahma. Sang Maitrikembali ke barat menjadi Hyang Mahadewa. Kurusya kembali ke utaramenjadi Bhatara Wisnu. Pratanjala kembali ketengah menjadi BhataraSiwa. Semua Kala yang merupakan hamba-hambanya menjadi Widhyadara.Mandiraksa dan Yaksi menjadi Widhyadari. Semuanya kembali ke sorgamengikuti junjungannya. (Semua itu) karena berkat Sanghyang (Tuhan).(Semuanya) kembali sepertiwujudnya semula.

Om Santih Santih Santih Om

Dalem peed

Ratu Gede Mas Mecaling

Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling

Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak, satu laki-laki, yang satunya adalah perempuan. Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling dan yang perempuan di beri nama Ni Tole, dan Ni Tole kemudian menjadi permaisuri Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sedang I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bernama Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga phisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.

Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:

1. Taksu balian,
2. Taksu penolak grubug,
3. Taksu kemeranan,
4. Taksu kesaktian,
5. Taksu penggeger.

I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.

I Gede Mecaling juga diberikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ibu Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Mecaling moksha di Ped dan istrinya moksha di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa di bumi Nusa Penida dan mendapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada Beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling.

Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juga menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Tidak dapat dijelaskan pada tulisan ini alasan-alasan yang lebih khusus karena eti

sang bujangga

Apa dan Siapa Itu Bhujangga?

Lotar Batur Kelwasan Petak

Lontar Batur Kalawasan Petak (MWBW)

"OM AWIGHNAM ASTU NAMA SIDDHAM"

Ikiwisik warah Indhu Batur Kalawasan Petak, ling Rsi Markandhya. Kaceritakna Hyang Widhi hanthyata manggeh ira tan hana mawisma nira, tan paro,tan parupa, hamusa jangga, hakerta sang hyang mahyun, hatamaja ekamadhyam, hanata hindu, hindu matemahan gni arab – arab, gni dadihandus, handus dadi megha, megha dadi watu, makeplug watu iki, hanatanah langit, gun gumi, bun gumi, matemahan tiga adnyana, sapaluire :- Ciwa- Sadha Ciwa- Parama Ciwa

Sang Ciwa: dadi langit, ngentikang sarwa lumentik muang Wedha Riwikrama, muwah Wedha Sanawosongo.

Sadha Ciwa: ring tanah anguyuh angga dadi yeh, dadi pasih, ngentikang sarwa mabayu dadi angin, raksaka wedha upasadha nga.

ParamaCiwa: ring paran nadi tirtha, Tirtha Sanjiwani sakala niskala, raksakawedha catur nuraga muang catur wedha gita, hana bhagawad githa, mayogasang parama ciwa metu yogha satunggal Sanghyang Tunggal, matemu ringDewi Rekata Wati, panak sakeng Rekata Tama, bangsa yuyu, raja samudralekad taluh, sang hyang onang ngempu taluhe ento tur lekad rare patpat.Rarene patpat punika kawastanin hantuk sang hyang onang :Asiki : Pukuh, asal sakeng wadahing taluh.Dadua : Punggung, asal saking kulit taluh.Tetelu : Bawa, asal saking putih taluh.Patpat : Manik, asal saking kuning taluh.

Risampun dangu kewastanin malih :Asiki : TogogDadua : SemarTetelu : NaradhaPatpat : Guru.

Malih mawasta :Asiki : Nabi HadhamDadua : Nabi SisTetelu : Sang Hyang NurchayaPatpat : Sang Hyang NurraccaLelima : Sang Hyang WenangNenem : Sang Hyang TunggalPepitu : Sang Hyang Guru.

SangHyang Wenang dados Surya, guru manik. Sang Hyang Tunggal rasa bun gumimamusa keneh, betal, makmur, nganten ngajak Dewi Rekata Wati, rasajantung, pangarasa, betal mukaram, lekad taluh camani "nga" purus,betal, makadas, yuyu miwah yeh, bungkulan taluh mani, rawuh sakengakudang rah :

Asiki : Angin, halu hamahDadua : Api, hamarah.Tetelu : Yeh, mut mahinah.Patpat : Bumi, supiah.

Iki"nga" Catur Yogha, yan ring bhuwana agung : surya, bintang, bulan, bawahiki "nga" Wedha Catur Anuranuraga, gnahnya ring Badjera Petak, ikihangurip Dyana, Tirtha Mertha Sanjiwani, suara ring nenger, tanpatastra hindhu "nga" tutur hindhu, piteket ring Idha Sang Parama Ciwa,hangewetuang tatua githa, hanata bhagawad githa, hantyata mangen ira,tan hana mawisna nira, hamujangga hakerti Sang Hyang Mahyun Atmadja,eka madhyam metu temajeng ingaranan "Sunya Ning"

Sunya Ning mayoga metu temadjeng "Tri" :Pinih luwih : Bhiseka "Rsi Marakandhya"Ikang made : Bhiseka "Rsi Gangga Sura"Ikang nyoman : Bhiseka "Rsi Manu"

Rsi Gangga Sura: kesah maring hindhu jumeneng ring "Mojokerto" dados Pandit.Rsi Manu: kesah maring hindhu jumeneng ring "Selepadang" taler dados Pandit.

RsiMarakandhya: kesah maring hindhu jumeneng maring "Mujasari" raris keGunung Raung irika Idha Rsi Markandhya ngambil rabi anak sang hyangwenang ingaranan "Ibu Kapilih" sane dadi dewan tanah gadah yoghasatunggal manon, kang nga "Rsi Dharmasunya"

Rsi Dharmasunyamaperiya Dewi Kanari, anak sang hyang naradha. Gadah yoga asiki ingaran"Rsi Guru" Rsi Guru maperiya rayat biseka Dewi Suma anak sajayengkarna, gadah yogha dadua:Pinih Luih : Rsi KelingIkang Madenan : Ipatiga.

Pastipangabaktiannya ring kakyang idha Ida Rsi Dharmasunya, ingaranan PasekPatiga ikang kakyangnya maka dalem pacung maka pancer pabaktiyan ringIda Rsi Dharmasunya.Muah yoghan Ida Rsi Markandhya, gadah yogha sane mijil ring "Ibu Kapilih"Sane duuran : Idha Bagus SuryaSane alitan : Made Oka.Ring Gunung Raung Ida mapitutur ring anak putun ira, iki rengen akna pawarahku ring kita:

1. Nirwana, Nirmanakaya, Nirmadharma.2. Amerasa, Atara, Atma, Ajnana liang "nga"3. Brahmawidya, Bagawan Byasa Biksuka, Budhi "nga"4. Icuara, Ica, Inayana, Jati "nga"

Bataradasarnya manusa "nga" kahalaman, kasusilaan, kabahagiaan, kabeneran/patut, menepakan, (ngelepasang kodrat kehidupan). Yan sang wiku kerasabudhi sunya, sayogya biasa kna dina latri, ning sarira, ambeana triloka palanya, ruwet sida ilang, jati paripurna sapanugraha ika palaningsidha ilang luirnya.Yan salah ucap, salah candak, salah rengen,salah pasuka, salah hangen, salah ungsi, salah sila, ika DASA SILA"nga" . Samangkana hawak harane, taye mandyaken lare sasare sarira, yantambuh ring payuden ne yeh idup jati ngebekin jagat, TIRTHA MERTHASAJIWANI.Humatur Ida Gusti Pacung, hayuun ling nira, nabdabangkadyatmikan muang ngerotong royong sareng duang tali (2000) kwehnya,ngiring kakyang Ida "Ida Rsi Markandhya" .Ida Gusti Pacung Agung,dadi pacek ring Gunung Raung sareng Ipatiga, durung asat babalangan,dadi ta agni arab-arab wetan, uduh anakku samea tonton ikang gniarab-arab jalan cening jani alih Gni Utama Ika. Hayuun sanaknyamakabehan, ling kakyang ida, kesah Ida Rsi Markandhya sakeng gunungraung sareng sisyan ida duang tali (2000) kwehnya muah sanaknya,ngulati gni arab-arab, saksana dateng ring gni iki, tan hana gni, alasrembho juga, irika ida ngerotong royong sareng duang tali (2000). Hanabyana "ABAS AKIH" landuh ikang rat.

Sapanang akna Ida RsiMarkandhya budal ke Gunung Raung, saksana dateng ring gunung raungsareng hanak Ida, I Pacung muang Ipatiga.

Sapanang akna malihhana gni arab-arab ring alas katila wetan, malih Ida turun ring gunungraung, turun ring alas katila, mumbul ikang banyu, yeh sumbul "nga"tukad iki. Irika Ida ngerotong royong ngardi tatamanan sareng duangtali (2000) pinih arep "Ida Gusti Pacung " kalinggihang ring "BadingKayu".

Iriki Ida Rsi Markandhya mujiangga hana "GunungBhujangga" ngeragayang Ida sekar hana "Gunung Sari" nga. Masarirabunga, abunguan, manis madu ragan "Ida Rsi Markandhya" mabiseka "IdaRsi Madura". Raris Ida ngandika : uduh putunku iki rengen aknapawarahku ring kita, panelas brahma widyane sang catur anuraga.SangHyang Widhi juga onang sembah, putunku wijil sakeng Rsi Dharmasunya,buat pangeweruh, Sang Hyang Widhi ane buana agung muang buanasariranta. Maka hawak hurip muang pejah, Iki Sang Hyang Catur Nuraga,ana katon ring buana agung kadi inten ika Hyang Parama sane ngurip awakcucune, doning hana sabda, samarpaya surya jotir, to madan jati, Surya"nga" keneh, Bulan "nga" tirtha, sarin keneh, Bumi: bayu, getih, kala,lawan api, yeh dadua api tetelu tunggal keneh ikang "Panca SaptaPetala" dadua "Naga Bandha", tetelu "Panca Sila", api tetelu yeh daduaiki "nga" Panca Patpat Napas, umad kunci iki "nga" Surya Sekala, SuryaMantri Magri keneh "nga" bulan kamantryam, yeh, banyu, bintangpangirim, angkyan, angin, otak, supyah, bumi, banyu nga. Mangkanaputunku kapustika ring Ida Gusti Pacung, gelis matur ring kakyang Idasinggih Sang Mahayukti, ayuun ring paduka Batara. Gelis Ida nabdabangkadyatmikan muang ngerotong royong sareng 2000 . hana Pura Bading Kayungiring Kakyang Ida Rsi Madura sane malinggih ring "Gunung Sari". IdaGusti Pacung dadi pacek ring "Bading Kayu" kahiring antuk Pasek Kelingmuang Pasek Patiga.

Hana Agama Hindhu Keling, bulak balikpamargin Ida Rsi Markandhya, malih ka Jawi malih turun ka Bali. Bulakbalik turun ka Bali "BALI" nga" jagat iki. Ngardi tatamanan hana GunungSari, hana Bunguan, Pagerwesi, Batur Panti, BESTURI, landuh ikang ratwireh ngagem game kasunyatan, muang Pancasila, muah Wedha Catur, sapataluire:Rih WedhaAntarwa WedhaSama WedhaYayur WedhaIkibabuatan Ida Rsi Markandhya, sakeng Jati Onang Sor, Onang Luhur, saluirDasa Karya Onang hana Sang Maha Rsi tan sipi Utamanya. Manis madu "RsiMadura" nga malinggih ring Gunung Sari, iriki Ida ngarga ring ulunpamelas, hana Tukad Masiwi "nga" ngelukat ikelabang apid, uler agungsane ngalahang Imangku Putus ring Panti, telas rarud banjar ring Panti,terus ke Alas Langsat. Jumenek ikelabang apid, kapralina ring Ida RsiMarkandhya ( Ida Rsi Madura ). Ring Sastra Ujar Jana, Yeh Idup ngebekinJagat, sakeng gitan Ida ngarge manak "nga".

Puniki babuatan IdaRsi Markandhya, "Wedha Catur Anuraga" panugrahan ring Parama Ciwa dukring Hindhu, amutusang se Dasa Karya iki "nga" Wedha Panca Catur TitiWirikrama, sapata luire:Rig WedhaAtarwa WedhaYayur WedhaSama WedhaPurwa Bumi Kemulan.Punikipakaryan Ida Rsi Markandhya, duk turun ring Gunung Sari, ngeragayangIda sekar, manis madu ragan Ida, mabiseka Rsi Madura. Kairing antukPasek Keling muang Pasek Patiga, ring dina: Wrs "Pa" Sungsang, PucakManik "Tang", Ping 13, Sasih ka 7, Rah 3, Teng 2, Icaka 1000, Cicaka1032.Metu pangalian Eka Sungsang Prawani tur Ida Rsi Maduramamuat "Pajenengan Hindu muang Pustaka Raja Candra Rasa". Tekeningbusananing sudaka, Ipasek Keling kalugrahin antuk Ida Rsi Madura "EkaGama Hindu Isma muang Pancasila lan muang katekaning Pejah, Iring IdaRsi Madura mahyang hyang Tukad iki kawastanin "Masiwi"periangan iki"nga" Basturi, Gunung iki "nga" Gunung Bhujangga, wireh Ida Mujiangga"nga". Gunung Sari Asah Danu irika Ida nyimpen Pajenengan: "NARA BADJRACIWA KRANA".

Spanang akna kesah Ida ring Gunung Sari kahiringantuk Ipasek Keling lan Ipatiga kantun ring Gunung Sari. Ida Rsi Madura jumeneng ring Dap-Dap Putih ngardi TAULAN pinggir ring tukade, irikaIda Rsi Madura mahyang hyang "Pangyangan" nga tukad iki.

Spanangakna kesah maring Pangyangan jumeneng maring "KELEDU NGINYAH" kajunjungolih Imangku Katrem, tur kaperihang paguruan ring Buana.Hana DesaGumrih, kesah ring Gumrih asenek ring Batu Mejan, hana anak dukun mayaspuri pecak magenah ring "Gong Purwa" Imacaling tekeng sanaknya:

I ratu Ngurah Tangkeb Langit Arine I Wayan TebaArine I Made Jelaung Arine I Nyoman Sakti PengadanganArine I Ketut PetungArine (istri) Ni Luh Rai Derani.

Kasunglugraha ring Bhagawan Dwi Jendra, duk ring Majapahit, tur ngusak asikring Lalang Linggah, hanesti neluh nerangjana, tur ngerapuh jagat.Irika katangehan antuk Ida Rsi Madura, miragi Ida Imacaling nesti neluhnerangjana, raris Ida Rsi Madura Dyatmika Yeh Idup tur kapulangin,kebus baang Imacaling ring Gunung Rangda, pati keplug terus malaib turterus ka NUSA maring jungut batu, raris ka "DALEM PEED".kari rabine "ILuh Ayu Lebur Jagat", I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, Wayan Teba, MadeJelaung, Nyoman Sakti Pengadangan, Ketut Petung, Rai Derani, mamekulring Ida Bhujangga Madura. Ring penataran gunung iki "GUNUNG RANGDA"nga.

Kesah Ida Rsi Madura ring Surya Beratha, jumeneng ring"Batan Getas", Ipasek Keling magenah ring "Puseh Pangulu" tur mamuatsenjata "Keris I Jaga Satru" nga, katunas ring Ipasek Keling ring kereblangit, tur kaambil ring "I Gusti Kresna Kapakisan Jelantik" ne magenahring "Mangwi" , kantun ulesnya sad sading "nga" puseh pangulu HinduKeling.

Ida Rsi Madura jumeneng ring "Batan Getas" kajungjungdening jagat muang praratu, Bala Mantri, tur Ida Rsi Madura ngardikayangan sang "Tri Warna" nga. Angga sinunggal, Asta Rwa, NetraTunggal. Sanghyang Tri Warna nga Raditya muji angga nga Papauman SatryaPunggawa, hana "Dalem Papauman", anyiwining satrya punggawa kabeh,muang Brahmana, Bhujangga, muang Bhuda. Spanang akna papauman satryapunggawa pinih arep: "Bhagawan Dwi Jendra", pamade "Bhujangga AjiManu", ping tiga "Cri Arya Damar".

Ida Rsi Madura rarismangandika, duh Cening Dwi Jendra, muang Aji Manu, muang Cri AryaDamar, Rengen pawarahku: dadi cening ngencak aci-aci Hindhu sane maadan"NGERECE DANA", dadi cening nganggen Gama Indra muang Brahma, GamaKala, Uma Tatwa, Yama Tatwa, Siapa nugraha cening .........???.Gelismatur Sang Dwi Jendra ...... singgih Sang Mahayukti, Sang Hyang Jagat Nathaasung nugraha ring anak batara titiang, pasasangkepan dite hamanganjayeng kana. Wireh wenten Sapta Buana "ngerece dhana" titiang ring Balinapi luire:Sawa Preteka : Da ( ) genahnya.Nyawa Wedana : Pac ( ) genahnyaSupta Pranawa : Ut ( ) genahnyaNyawa Asta : We ( ) genahnyaPitra Yadnya : Ma ( ) genahnyaPranawa : ring A ( ) genahnyaKerti Parwa : ring. Pra ( ) genahnya.

Wirehsampun mamargi karaksa antuk ida dane, ipun sukeh antuk titiangngerobahin malih ratu, banggiyang sampun, wireh sampun mamargi Ratu.Durung asat babalangan keweh yan rasayang. Ensek sapenuh pakayun Ida Rsi Madura, tan kasaden kayun. Spanang akna kesah Ida Rsi Madura ring Batan Getas, jumeneng ring Beratan. Kasungsung antuk "Ida Dalem Sagni"ne malinggih ring Tamblingan. I dalem tamblingan madue putra kalih, Sanepinih luih : Ida Bagus Tos Jaya.Sane alitan (istri) : Dewi Ayu Sapuh Jagat.

IdaDewi Ayu Sapuh Jagat tur kaambil olih Ida Rsi Madura kaanggen rabi, turlama-lamanya Ida Rsi Madura enem warsa (6 tahun) malinggih ring Beratan. Ida Ayu Sapuh Jagat madue putra patpat sapata luire:

Pinih luhur: Ida Bagus Cakra - (ring Jati Luih).Sane alitan: Made Rai PutraSane alitan: Nyoman Raka SudanaSane alitan: Ketut Cenik Mertha.

Okan prami sane mijil ring "Ibu Kapilih" rabine ring Majapahit, sane medal sapata luire:

Paling luhur: Ida Rsi Dharma Sunyasane alitan : Ida Bagus Surya – (Ida madiksa mabiseka: Ida Rsi Wisnawa).sane alitan : Ida Made Oka

"Rsi Dharma Sunya" malinggih ring "Mojosari""Ida Bagus Surya" malinggih ring "Batan Getas""Ida Made Oka" malinggih ring "Kayu Pinge" mangkin mawasta "Kayu Putih"

Okanrabin Ida Rsi Madura sane ring Tamblingan, Ida Bagus Cakra ring JatiLuih, terus ke Gunung Sari Asah Danu. Putran Ida Bagus Cakrane maparab"Rsi Tamu" jumeneng ring "Lukluk". Ida Rsi Madura budal ke "Basturi",tur Ida merelina sisiyan Ida ring "Gunung Bhujangga" ( ring Desa Sepang Kec. Busungbiu Kab. Buleleng ). Kantun putra sane mijil ring Dalem Sagni ne malinggih ring tamlingan: Ida Nyoman Sudana tur Ida jumeneng ring "Blambangan". Made Rai Putra ring "Banyuatis" ( asrep ) ring PusehMukti. Ketut Mertha ring Gegelang terus ke "Pemaron". Ida Made Oka ringKayu Pinge (Desa Kayu Putih) sareng tumin Ida "Ida Dewa Ayu SapuhJagat". Kahiring antuk anak "Idukuh Mayasturi" sane mapesengan "MadeJelaung" muah "I Wayan Tebe" kagenahang ring "Lawangan Agung".Kapanganikayang ngeraksa gumi ring Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. Kon Idamahideran ngeraksa jagat, "HIDERAN" nga jagat iki.Made Putra ringBanyuatis madruwe oka mapesengan "Ida Rsi Kanya" asiki tur sampunpandita, kahaturin ngayunin ke Blambangan antuk Ida Anak AgungBlambangan, ri sampune rauh ring Blambangan kacunduk Ida sareng okanIda Bagus Sudana sane mapesengan: "ICENELE" muang "MADE BERATHA" pecahekesah sakeng "Beratan". Gelis matur Icenele ring Ida Rsi Kanya, uduhkakangku Rsi Kanya tan weruh kakang tekengku, aku hanak Bagus Sudhanakatinggalan meme bapa tur kahula kateler, umi nget Ida Rsi Kanya enseksapenuh ring ati, tumeres toya aksa tonibeng panon, raris mojar: Uduhanakku Cengele ong gila cabar ujar, jalan jani budal ke Bali jele melahajak beli di Bali, metu Icengele "Aku tumut kakangku". Durung ngasatbabalangan puput karyan sang Prabu Blambangan, katuran Rsi Kanya puniyagung artha 65 tali maruntutan Surya Kanta muang tateken Punyan KayuJelawe.Spanang akna rauh Ida Rsi Kanya ring Griya Banyuatissareng Icengele muang Made Beratha, irika Ida Rsi Kanya katatamanngunya unyan derika Ida nancebang tateken Idane, tur mentik rikalakacingak antuk Rsi Kanya raris Ida ngandika ring rain Ida Icengele.Uduh adikku mentik tatekenku, jalan dini ngardi papujaan hadanin"Pujalawe". Spanang akna hana pura "Pura Pujalawe" papujaan Ida RsiKanya.Spanang akna Rsi Kanya, kaceritaan Anak Agung Rijasa ringBanjar "Mabyang Sakti Blambangan", kaambil antuk Ida Bagus Suci ringBanjar, kaambil rabin anak agung blambangan sampun mobotan, punikamedal sakti wak bajra, mabiseka "Bagus Rijasa". Ida nyapuh bangsa, RsiKanya kateler . ditu Icengele susah reh tahu teken anake nawang mantratonden mabersih sube ngeleneng. Raris rarud katengah ka "Manguwi" diManguwi Dukuh magenah.

Hanak Rsi Beratha sane kesah kaBlambangan mapesengan "Putu Wija" taler kesah ka Tabanan jumeneng ring"BERABAN" ditu makarya "Taulan". Spanang akna uug Berabane, hanak PutuWija patpat telas rarud ngalerang, budi ngungsi ring Gunung Sari,gunung sari alas dapetanga. Tur irika ring kiring "Asah Badung"jumeneng.Naler wenten ka Patemon magenah ring "Banjar Uma", muang ring "Tegal Bubunan", hana juga ring "Banjar Belong":

Sane ring Asah Badung Desa Sepang mapesengan : "Putu Rukma".Sane ring Banjar Uma Patemon mapesengan : "Made Wirtha"Sane ring Banjar Tegal Bubunan mapesengan : "Nyoman Kartha"Sane ring Banjar Belong mapesengan : "Ketut Mertha"

Spanangakna kacerita mangkin "Dewa Ayu Sapuh Jagat" eling ring pitutur Ida RsiMadura, I Pasek Patiga ring Gunung Sari magenah, tur kautus I PasekKeling antuk I Dewa Ayu Sapuh Jagat ngalih I Pasek Patiga ka GunungSari.Spanang akna raris I Pasek Keling majalan, saksana dateng ringGunung Sari, kacingak I Pasek Patiga makuweh kadannya, tur raris IPasek Keling matakon : "Ih kita Patiga dadi makuweh sanak kita, kitaajak kita dadua luh muani tunggal sanak, siapa ngamet sanak kita"..........?.Lah warahan tekenku ...!!! Humatur I Pasek Patiga, titiang ngambet nyamantitiange, gelu idep Ipatiga. tur I Pasek Keling berangdi raris budalsah tan papamit, Saksana dateng ring Kayu Putih raris matur ringlinggan Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. Pakulun paduka sang si muhun, singgihratu I Patiga salah wetu, nyaman ipun juange anggene rabi, sampun ipunmadrebe pianak katah, Ratu !Ngandika Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat,"Depang", "Siepang", hadanin Sepang "Desa Sepang" iki nga. I Patigahadanin "Basturi", spanang akna Ida Ayu lebur mala.

KaceritaIda Bagus Surya sampun madiksa mabiseka: Ida Rsi Wisnawa, taler Idakesah ring Dalem Pauman, kairing antuk I Pasek Keling muang ILemintang, ne magenah ring Desa Ayunan distrik Manguwi.I Lemintang magenah ring Asah Wani Desa Sepang.I Pasek Keling ring Desa Sepang.IdaRsi Wisnawa magenah ring Asah Badung Desa Sepang, kerana genahe maadanAsah Badung wireh Ida Rsi Wisnawa kesah ring "Desa Badung". Irika Idamapitutur ring Asah Badung.Duh cucunku Keling, kita ngelah anaknenem (6) paling kelih: "Arya Sidemen". Jalan dini wacanin mangdacucunku tan keliru teken "Kayangan".Sane paling kelih : Arya Sidemen, magenah ring: KelungkungNe Madenan : Arya Demung, magenah ring Abyan Nyuh, Kelungkung.Ne Nyomanan : Arya Ongaya, magenah ring Sading, Puseh Pamangku "nga",Pangulun Keling.Ne Ketutan : Arya Lemintang, magenah ring Ayunan, Manguwi, BadungTut De : Arya Gunawati, magenah ring Padawa, Banjar, Buleleng.Made Cenik : Arya Tak, magenah ring Batu Bulan, Gianyar, sareng ngiring IdaRsi Tak.Arya Sidemenmagenah ring Kelungkung, aku ngelah panak abesik mabiseka: "BagusBawa", aur ring Rsi Kertha, Hangencak aci-aci Hindu, maseke ring "IdaPeranda Wawu Rauh", mabah kaca, puhan bangsa, sanak mabah nyumbah dalemmuang ngandeng Pande, mabah bareng ajak pandita, to karana mabah.Mulihmai jani ada piteket mabah teken putunku ! Ingetang pitutur mabah:"Ayua ngencak Agama Hindu, pati purugan purugan, tingkah kadi I Patiga,nyuang nyamanne, kapastu antuk Dewa Ayu Sapuh Jagat wastu apang edeendah, yan tan: "Mageni Jaya" muang "Marga Gumana". Cucu tan onangngamet sanak tunggal Ina lan muang katuminan, tan suru duraka, papaneraka, pegat sentana tur kageringan.Spanang akna kacarita: "BabadPapolosan", base bali, malih ngawite tuah Hindu, sane riin wentenpitutur "Ida Rsi Markandhya" ring sanak Ida sane mabiseka "RsiWisnawa", mangkin Ida midarta ring putun Ida "Mpu Guru", Ling Ira:Ihcucunku "Mpu Guru" rengen akna ling ku, Hapan dudu nyanggra Parama Ciwaring Sang Hyang Widhi, apa kerapanya, rekanya, wireh hana wimbanyapinaka taulan hapan hana sarira kembar, ane raga saular sarira lawaningkang raga kahingga raga halus, masuk wina suku, ri kalaning nyumpene,lingga sarira lumaku, setulas ring raturu, mangkana "Mpu Guru". Emengpawasira ring kalingan ring sasana Agama paweh nira Hyang Widhi nguniapan kapurug dening wisadha, ring ka catur sarira iki jatining Agama"nga", iki nga "Eka Gama" kalangen denta pusat hati, matangiya wakitasalah surup, pakestin ta dudu Dewa sinangguh, Dewane roh yang inakenhyang ye Bhuta, ye kala, ye dengen, ye duwaning Dewa, Ulun hyang ninghyang, kita samuha, kita samuh noro, apan kaya kita pangawak bhuta,kerana kita dadi salah candak, salah sengguh apan kasamaran ringjeroning hatinta, magawe sasar panembahan ta ring ingsum, kerana kitamelaksana hanyembah pagawen hadewek, dadi ta kita tan pagawe Dewa, tanpagawe Pariyangan, tan payang apan ingsum wus tedas moksah, suksmamulih ring bawa sunya, tan panangun iring sun, luput inucap, tanmangen-angen samang kana kepratinta, tan weruh ta ring: "Gama, Igama,Ugama, lan "Gama Hindhu". Tan weruh sira kasandak dening kasasar.Matamyasira den prasaksatpat, gumi ngetinget iku gama tan parupa mawarnatapwana pradana ne royo purusa, ye lanang ye wadhon, kalingannya ikangigama, tapuan kuasa.tan wenang wiyoga pawastu melali hana ring sarira,nahan ta luirnya, memamurka angkara loba drawaka, kunang hana muah,lawa cidra, meha bangga ulik maka pra pratinya lupa "nga" lali yasangkan paran ning dumadi jadma sidra nga, tan pacidra sangsaya ringurip, moha ngulurin kapicitan idep angkara nga, hangaku dewek weruhmudaha punggung ring pangrasa alus. Sayogyanya ri keng igama ngeraksaIgama, Agama, muang Ugama. Lawan manusa bhagawan suci mojatinne SangHyang Jagatnatha magenah sareng Ikeling, rabin Idane mapesengan "CriMaya Gandhi" anak jiin ri wekasan "Batari Yuma" nga. aserama ring tasikanunggang palawa, irika ida cerah, pangerapetan ida ring palawa, mastukapastu jagat natha kapastu. Hasta catur, ciwah pangarasane, maparabBatari Ciwas, Batari Pinastu, yak sarupa, dening ring Sepang Dalemetunggal teken puseh. Wireh derika Ida kalukat ring Ida Rsi Markandhya,metu Kaman Ida Batari Ciwas, maulu lekad Sang Hyang tur angusak asikamangan sarwa lumentik, muang sarwa lumaku malilang ikang jagat "SangHyang Kala" nga. Wit maulu bunter nga hantiga nga, tri purusa, sanga,se, nga. Abesik, basa besik butur nga. Tri Purusa nga kapiyanak dadi"Wong Kara", "Madu Muka" ri kala ika kaaksi ring "Dewi Mahanari" rusakikang jagat Tri Kaya, sedih Ida "Dewi Nari" tur Ida mastu, pastu hyangkala mulih ring pati, hana ta dyakala nga, mulihang kala, raris IdaBatari mangurip buana taru lata daluma muang sarwa lumaku kambil iduh,Tirta Sajiwani, yeh idup asing kasusupin banyune misi mertha mawetu sadrasa, sad nga, 6, inem, sop, mawetu Ana Caraka. A, na, ca, ra, ka. A -hawak nga, Na - ade mawak, Ca – cantik, Ra – diraga, Ka – kakolongan,Da – nagih dedaaran, Ta – magenep, Sa – sane merasa, Wa – gwa golong,La – layah baange sopin, Pa – penpenin, Ja – ne jaen, Ya – ento, Nya –nyaem – nyaem. Rekannya ring lontar pinih wayah dadi wekala, dadiPancasila, iki ya:a-da-pa-ma, na-ta-ga-ja, sa-ca-ba-ya,wa-ra-nga-nya, ka-la, jatinya iki: abesik sasoca, dadua SangPangungasan, tatelu Sang Karna, patpat Sang Majarwa, kelima SangUpadama nga, yan ring sunya "Dasa Muka" , 10, 1000 usah ngebekin jagat,sama bhawa nga ika samuh asalah, sane sujati iki. Panca sila yan ngardiDewa, Sang Hyang Icuara suluh iraga nga.Bang – Brahma, sarin getih pramana nga.Tang – Mahadewa, made dewekeAng – Wisnu, Wis kaprapatang nu kantun iraga idup.Ing – Ciwa, bakti ngaNang – Masoro, cening dasar raganeMang – Ludra, mincer badjra danta.Cing – Sangkara, abesik contohne diragaWang – Sambu, bisa ngesop tirtha mono.Yang – Yama, sane sujati.

Tri Aksara:Ang – ngangangUng – di suungeMang – di mbangeDadi dwi aksara

Ang: ngangang, angkian, aberata, dasarnya ayoga, abayana, asumadi,nyambang, nyadal sane angertaning Tri Kasudha Mala, sane jatiningsujati iki ye: SAPTA PETALA, nga. Iki laksana sang "Bhujangga" muang"Ciwa", lan "Boda". Mapitra Yadnya, mangkana ling "Mpu Dharma Nurcaya"midarta ring "Rsi Markandhya" duk ring sunya tan onang nya "NGRECEDANA". Wireh Ida mungkah hana jagat Bali, yan nora sentanan "RsiMarkandhya" mapahayu jagat Bali, baur ikang jagat Bali.

Spanangakna yan wirasayang sakeng pakaryan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Buinpidan gumine matuuh duang tali tiban "2000 tahun" hana Raja Wisma, tanhana manusa makardi sakeng Ida metu hamusa jaga, papatih Idane "UledMrecika" rasika klabang apid macihna wintang kukus. Malih tahun 1953,Hana cihnanya jadmane mambek ririh, saling langkungin ngalih kabisaan,nirgawe ika.Mangkana ling "Rsi Sunya", ring putun Ida Ikeling, ringpanegara Sepang. Sojar ira aku mulih ke "Basturi" ngiring ajin ira "RsiMarkandhya". Yan aku mulih ke jawi jawine rusak, mojopahite sampunkalah, kakalahang gama Selam (Islam), Ida Dalem majapahite kalahkakalahang antuk putran idane mabiseka "Raden Patah". Memedal di Bali,kita ayua ngencak aci-aci Hindu, spanang akna raris Ida hilang.Ida Rsi Wisnawa, buin pidan gumine matuuh duang tali tiban "2000 tahun",Ida medal malih kasekala, Yusan (umur) "Ida Rsi Wisnawa 23 Pajenengan",lan "Ida Rsi Markandhya 30 Pajenengan" Ida di Bali.

Spanangakna kacaritaan "Ikeling" sampun madiksa ring Desa Sepang dadi pamangkuring Pura Sepang, wireh Jagat Natha malukat iriki, dening palinggihetunggal ring puseh, doning ring Gunung tan wenang ngaben mageseng,wenangnya mapendem. Sira Ikeling maganti pesengan mabiseka "Mpu Batur",irika Ida mawarah warah dadi guru mapidharta ring para sisyan Ida :Uduh hanakku samua rengen pawarahku ring sira, guguaning Tatwa Dharmasuksma nirmala buat pangeweruh Sang Hyang Widhi, hana buana agung muangbuana sariranta maka hanak hurip muang pejah rikalanta mulih ing bhuanasunya, wus kaiket daging jagat, tastas akna Naga Banda ru muhun,mangkana denta mamendem hagia satyanya kalawan batara, apan Sang Hyangwidhi hangkeb ring jagat, Ida ngurip sarwa tumitah, hapan Sang Hyanghurip ngasatiling ganing manah, yan tan kapanggih ikang druwe ya warathasarira buru Sang Hyang Pramana hapan sakti ning Sang Pramana kangpinaka druwe matangia mangke idep hagawe atma, wyakti kapanggih SangHyang Pramana ta denira. Ika kaweruh akna denira yan sira mahyun lawaslawan atma nira wisesa. Nadi ika sumadi, hika wisening idep, wisesanatma, yan sira mahyun weruhe, asucita rumuhun wus puput ta, asuci,lukar sahena ikang "Yoga Sumadhi". Samadhi sumadhi amati sarira hayuamanganta haja hangen idep kerasa haja mangitung raja druwe, hayuahamolih hanak rabi, hang idep mati juga kita, pegeng ikang bayu, hayuahangel, wetu akna ring usehan, hayua maderes masukang bayunta ringusehan, yan sira ngupak bakti ring Dewa "Tri Sandhya" nga. Iki wenanganggen panusdus agung, mangkana ling Mpu Guru. Midarta ring sisyan ida:Ih ......... anakku samua ayua ngencak Agama Hindhu wireh gumine rusak, Jawa,Bali, di Jawa kakalahang gama selam, di Bali kakalahang gama Bhuta, akungelah panak patpat (4) di Jawi sapaluire:Mpu Maramanu dadi Raja di Madura.Mpu Gandring dadi pemimpin ring Jenggala.Mpu Lumbang dadi pemimpin ring KediriMpu Kuturan dadi pemimpin ring Majapahit.

Nah cening ajak makejang de ngelenin "Agama Budha" katamaan Hindhu",Ida Sang Hyang Budha rikala Ida mawarah-warah ring sisyan Ida sanenelebang Agama Budha. Ih ........cening pelajahin juwa hawake magama Budhayening gamane medasar Tirtha. Buin nyen je anake tuara nawang agama,same tekening buron jajelege dogen marupa jatma idepne sujati buron.Nyen je manetepang pahileh Agama Budha, sujati tusing ada Dewa Bhatara,Sang Hyang Widhi sekala, Buta Buti, Gandharwo, mamedi, leak, pamedhi,muang sakancane. Ento makarana tutur Bhudane gulik, masih tuah anakepradnyan cening hana pageh marasidayang ngelawatang raga mangalihsujatin idep suci, ya subha budha, yan malajah Agama Budha habot dangancening, kewala baberatane apang pageh, tusing je mamilih bangsa,wiyastun bangse pengangon, lamun be tetep ye Budha laksanane tuahpatpat cening: Suka, Lila, Legha, Leghawa.

Pa " " Hana eka gama lingga Dewa

1. Padma, Surya, bin abesik keneh nurchaya.
2. Kamulan, bintang pangirim, Tirtha Mertha Sajiwani, guru tunggal ring watek.
3. Bulan Taksu, pangubung bayu.
4. Taksu, Ngurah, Togog, bawa sabdha, hana "Catur Waktra" nga.

Yan ring sarira:• Sabdha• Bayu• Idep• Rasa.

Yansarnya patpat linggannya, lelima Hyang Tunggal, Sang Hyang Guru. Yanring manusa: Sang Lambe, Sang Soca, Sang Pangungasan, lan Sang Karna.Muah ri tekaning pejah, laksananya: "MRECHE DANA" pamuputnya ring Sanggah. Iki maka jatinya:1. Sawa Yajna2. Pitra Yajna3. Atma Pralaya4. Tirtha Yajna5. Dewa Yajna6. Manusa Yajna.

Terusberu madya: "Atma Pralaya". Widhi widanane: Saji Duang Soroh, Nasiangkeb bubuh pirata, " " catur warna, penek adulang, mapangawak tirtha,Laksananya: Nyawa Yajna. Pinih arep Bagawasa, " " nga.Tri Purusa " "Tri Purusa.Tatelu ngudarsana ' ' ', Tri Sakti,' ' ' tangkeb buana,''Dasa Sila nga . ikang panca pandita melaksana catur nuraga muang wedhacatur wedha, melaksana' ' ikang ' 'maulah tingkahnya hareping TirthaRumuhun.Mulangin tirtha ping 7 raris ke ungkur sang mamuja, terus nyambang semadhi muah pangawit mungkah ' ' Katapras.Canang daksina ka Setra saksiang ring Cangga Menala, raris tumbegtanahe ping telu (3) wadahin don dap dap telung (3) bidang, genahangring rantasan, bapa meme, kaki nini, yan lanang Mrecedana, yan istriMrecedani. Sang pinuji wus mangkana bakta mantuk pulang maring tirtha,wus pinuji gineseng sinarengan 'nga'. Kwangene simpen ring duegan pita,ingaput dening wastra putih, saha widhi widanane saji asoroh, riwuspinalih malih inanyut maring luah. Titipang kahindu regede ring BhatariGangga pangesengane hastangi:Kayu halpanggil – ' 'Kayu menyan _ ' ' manengenKayu majegau _ ' 'Kayu cenana _ ' 'Keluping _ ' 'Puniki panganggen Ciwa, Bhoda, muang Parama Ciwa. Harya muang Keling 'MRECHA DANA' nga. Sapisan terus manyekah ........................ Telah.Malihri tutug tigang rah dina mapunia pudana, 12 dina, 35 dina, 37 dina padaonang. Yan liwat saking irika ngawilang dina tulus dadi tirtanemalalemas, Dewa Yajnya 'nga', risampun puput hatatiwan munggahpiratanya ring kemulan tiga. Onang tebus akna pamudanya suci abesik,guling babangkit, mapangentas aji sapa satus. Wus mangkana raris gesengring natar ika hanyut akna, ring luah, areng ika dulurane hajumanabesik, yan tan gelaran iki tan sah ginuru den Sang Hyang Yama Dipati,kagele-gele kasakitan. Rauh ka prasperti sentananya kaki nini putubuyutnya nyalah angkuh ri bedanya tiwas nyalah laku. Hayua tan pariatnaling aksara iki yan tan laksanaang iki baur ikang rat .

Ikijatinya "MRECHA DANA" nga , yan kita melaksana Mrecha Dana upakaranya :"PUSPA LINGGA". Asiki pirang yutha sawiji, puput hantuk Upakara Syasoroh ( 9 soroh ). Mangkana ling RSI WISNAWA.......................telah ...............Nyancucuku mas cangkem 'nga' genahing sabda, cucuku manik nga put antukidep ring Karna manjing wetunne. Cucuku perak 'nga' dasar ring papusuhgnahing rasa ring bun bulan manjing metunne. Aku wisastra " " gagelaranDharma pitutur apan aku Sang Hyang Dharma, Aku wiku sakti, Aku guruningwiku ring rat kabeh, Aku paran, Aku sangkaning hana : "SAWA SAGOTA" yantingkahing aturu muang hatangi urip lawan pati ring sarira dewek ringapa cai wetan. Langite tan pajalada, natan pawindu ne munggah ring awakcai ne, selantum teke cai ne madan langit ditu nongos urip cai ne, dibulane tan pateja . ditu nongos ya dadi bayu, ya nadi manah, ya nadilobha, nadi legha, dadi dharma dadi patut, dadi salah, dadi Dewa ringsunya untek cai ne nongos.To makada dadi inget suryane tanpadipta to budin cai ne dadi api, kamulan atin cai ne ya dadipangarasa, dadi manusa, dadi suara, manah dadi mawas, manunggalanditengah unteke sangkan cai dadi pules, mulih keselan untek caine yancai mabudhi mati. Yan cai mabudhi mati ditu tunggalang Sang Hyang Urip,dadi cai inget ngendusin Sang Hyang Pramana tong ada luas. Sangkan caingipi budinne tuah ngoda tuara jenek budin caine.Yan rupan Atma ne kadi: " Surya Wau Metu " nga , hadannya ne "Idipta" nga.Hajaweru utama dahat ila-ila temen. Ilang nilemah dadi bayu, ilang ibayudadi teja, ilang iteja dadi bayu, bayu brahma lokha dadi.Put......................puput...............................puput..............................puput.

OM CANTIH CANTIH CANTIH OM.

Asah Badung, Desa Sepang Kelod. Riwus sinurat cakepan punikiRing dina "Ang", Wage, Wuku Gumbreg,Rah Siki, Tenggek Windu Icaka Siang Olas.( C 1901 ). Tanggal Welanda 23 Oktober 1979.