Selasa, 31 Maret 2015

bab III



III. METODE PENELITIAN
3.1.  Metode Penelitian
          Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini  adalah  metode  survey yaitu pengamatan atau penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang baik terhadap suatu persoalan tertentu di dalam daerah atau lokasi tertentu, atau suatu studi ektensif yang difolakan untuk memproleh informasi-informasi yang dibutuhkan (Daniel, 2003).
          Jenis penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriftif, untuk melukiskan dan menggambarkan secara sistimatis atau karateristik tertentu secara faktual dan cermat (Sugiyono 2008).
3.2.  Waktu dan Tempat Penelitian
3.2.1.  Waktu penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 10 Maret  sampai 30 Maret 2009 .
3.2.2.  Tempat penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan  pada 6 unit pemukiman transmigrasi (desa) pada 6 kecamatan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.



3.3.  Pemilihan Lokasi Penelitian
  Lokasi penelitian  diambil secara purposive sampling dengan pertimbangan bahwa unit pemukiman transmigrasi tersebut merupakan penerima program bantuan  Sapi Bali dari sumber dana APBD II pada tahun 2005. Untuk lebih jelas nama-nama unit pemukiman transmigrasi yang menjadi lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Lokasi penelitian.
NO
KECAMATAN
UPT/DESA
JML.
PENGGADUH
JML.TERNAK
JTN
BTN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Segah
Sambaliung
Teluk Bayur
Tubaan
Talisayan
Batu Putih
Pandan Sari
Tumbit Dayak
Labanan Makarti
Harapan Maju
Campur Sari
Kayu Indah
17
17
17
17
17
17
3
3
3
3
3
3
34
34
34
34
34
34

JUMLAH

102
18
204
3.4.  Pemilihan Sampel Responden
          Responden dalam penelitian ini diambil secara sensus dengan pertimbangan lama pemeliharaan sapi sesuai dengan surat perjanjian kontrak gaduhan yang telah disepakati. Metode sensus dikenal juga sebagai metode pencacah lengkap, artinya semua individu yang ada dalam populasi dicacah sebagai responden (Daniel, 2003).
3.5.  Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel
3.5.1.  Dampak program bantuan pemerintah
1.        Program bantuan ternak Sapi Bali yaitu bentuk program yang diterima oleh peternak.
2.        Pihak pemberi program yaitu instansi sumber modal program adalah pemerintah.
3.        Ketentuan program bantuan yaitu ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama oleh kedua belah pihak (pemberi program bantuan dan peternak) terutama ketentuan bagi hasil dari program yang dijalankan.
4.        Harga  bakalan adalah  nilai ternak pada awal pemeliharaan yang telah ditetapkan oleh standar harga pemerintah (dalam rupiah).
5.        Program pembibitan yaitu suatu program yang bertujuan untuk menghasilkan anak, dengan sistem peternak menerima sejumlah ternak  sapi betina untuk dikembangkan selama periode waktu tertentu.
6.        Jumlah peternak penggaduh adalah banyaknya peternak yang menggaduh ternak Sapi Bali program bantuan pemerintah dalam satuan orang.
7.        Jumlah Sapi Bali gaduhan yaitu banyaknya sapi yang diterima oleh penggaduh  atau banyaknya  ternak sapi yang didistribusikan dari program bantuan pemerintah dalam satuan ekor.
8.        Jumlah peternak pemilik Sapi Bali yaitu banyaknya peternak yang memiliki  Sapi Bali setelah memenuhi kewajibannya sebagai penggaduh ternak kepada  pemerintah dalam satuan orang.
9.        Jumlah ternak pribadi yaitu banyaknya ternak yang menjadi hak milik peternak setelah peternak penggaduh menyetorkan ternak induknya setelah beranak kepada pemerintah dalam satuan ekor.
10.    Jumlah pengembalian ternak induk  yaitu jumlah induk yang dikembalikan kepada pihak pemberi program bantuan sapi bibit pada tahun yang ditentukan dalam ekor.
3.5.2. Tingkat produktivitas Sapi Bali gaduhan
1.        Produktivitas Ternak, dapat diukur dari penampilan  sifat-sifat produksi dan reproduksinya yang dicerminkan pada proporsi yang terdiri dari jantan dan betina afkir ditambah jantan dan betina muda sisa pengganti.
2.        Service per Conception (S/C) adalah jumlah perkawinan untuk satu kebuntingan.
3.        Angka kelahiran yaitu jumlah ternak yang lahir per tahun dibagi dengan betina dewasa atau populasi  dikalikan 100 %.
4.        Panen pedet angka sapih yaitu dihitung dari jumlah anak yang disapih dalam setahun dibagi dengan jumlah betina dewasa dan atau populasi dikalikan 100%.
5.        Angka kematian  yaitu jumlah ternak (anak, muda dan dewasa) yang mati dalam setahun   dibagi dengan jumlah populasi  dikalikan 100 %.
6.        Natural increase (NI) adalah perkembangan populasi ternak yang diukur dengan jumlah kelahiran dikurangi kematian.
7.        Net Replacement Rate (NRR) adalah jumlah anak betina yang lahir dan dapat hidup pada umur tertentu, dibagi dengan kebutuhan ternak betina pengganti setiap tahun dikalikan  100 %.
8.        Angka kemajiran adalah jumlah ternak jantan kebiri dan betina yang tidak mampu menghasilkan keturunan.
9.        Struktur populasi adalah proporsi ternak berdasarkan umur dan jenis kelamin yang diukur dalam persen.
3.5.3.  Pendapatan peternak penggaduh
1.        Biaya pemeliharaan yaitu biaya tunai yang  dikeluarkan oleh peternak selama pemeliharaan dari sapi program bantuan diukur dalam satuan rupiah.
2.        Nilai penerimaan  yaitu keseluruhan nilai penerimaan sebelum dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan oleh peternak (dalam rupiah).
3.        Nilai keuntungan/pendapatan yaitu nilai penerimaan peternak setelah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan peternak (dalam rupiah).
3.6.  Sumber dan Jenis Data
          Data yang dikumpul dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden yang berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disiapkan. Data sekunder diproleh dari instansi terkait seperti kantor statistik,  Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kantor desa dan pustaka lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1.    Wawancara yaitu wawancara langsung dengan responden yang berpedoman  pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan.
2.    Pencatatan yaitu pengumpulan informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dengan mencatat data yang tersedia pada intansi.
3.    Observasi, yaitu mengadakan pengamatan langsung pada responden untuk menyesuaikan data dan informasi yang diproleh terutama data primer.
3.7.  Analisis Data
          Dalam upaya mewujudkan tujuan penelitian, ini maka data yang terkumpul di tabulasi dan diolah menurut katagorinya dan selanjutnya dianalisis dengan model analisis yang sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu:
3.7.1.  Dampak program bantuan pemerintah
          Berdasarkan surat perjanjian gaduhan  (Distannak 2005) dari 102 peternak penggaduh Sapi Bali bantuan pemerintah, maka selama 3 tahun paling tidak  terdapat 102 peternak pemilik, dan 102 peternak penggaduh baru dari Sapi Bali hasil setoran atau redist.  Jika data hasil pengamatan pada saat penelitian tidak sesuai, maka diperkirakan  ada beberapa faktor yang mempengaruhi dampak program bantuan pemerintah terhadap status pemilikan  Sapi Bali dari peternak penggaduh menjadi peternak pemilik pada pemukiman transmigrasi di Kabupaten Berau.
           Faktor-faktor  tersebut  selanjutnya ditabulasi menurut jenisnya, kemudian dihitung rata-rata, persentase dan standar deviasinya (Sugiyono, 2008). Interpretasi data yang diproleh dilakukan analisa deskriftif
3.7.2. Tingkat produktivitas Sapi Bali gaduhan
          Untuk mengetahui tingkat produktivitas  Sapi Bali gaduhan program bantuan pemerintah  dari semua responden maka varameter teknis yang diamati adalah :
1.      Umur kawin I
2.      Service per Conception.
3.      Lama bunting
4.      Umur melahirkan I
5.      Angka kelahiran
6.      Estrus postpartus
7.      Panen pedet/angka sapih
8.      Jangka beranak
9.        Angka kemajiran
10.     Angka kematian
11.     Natural increase
12.     Sex ratio
13.    Net replacement rate (NRR).
14.     Struktur populasi ternak
          Data yang terkumpul ditabulasi menurut jenisnya, kemudian dihitung rata-rata, perentase dan standar deviasinya (Sugiyono, 2008). Interpretasi data yang diproleh dilakukan analisa deskriftif.
3.7.3.      Tingkat pendapatan peternak penggaduh
          Pada umumnya usaha peternakan adalah untuk memaksimalkan pendapatan atau keuntungan secara matematis dapat di rumuskan sebagai berikut (Rahim dan Hastuti, 2007 ; Soekartawi, 1995). Perhitungan terhadap  tingkat pendapatan peternak penggaduh hanya dilakukan  terhadap responden yang memelihara ternak  dari awal penyebaran ternak bantuan sampai akhir penelitian (responden yang tidak menjual sapi gaduhan ) : 
1.        Pendapatan bersih usaha tani.
Pd = TR  - TC
Pd  = Pendapatan usaha tani
TR =  Total penerimaan
TC = Total biaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar