IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian
4.1.1. Keadaan geografis
Kabupaten Berau merupakan salah satu kabupaten di Propinsi
Kalimantan Timur dengan luas wilayah 34.127 km2 yang meliputi luas
daratan dan lautan. Secara administratif Kabupaten Berau terdiri dari 13 kecamatan yaitu : Kecamatan Kelay,
Kecamatan Talisayan, Kecamatan Tabalar, Kecamatan Biduk-Biduk, Kecamatan Pulau
Derawan, Kecamatan Maratua, Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Tanjung Redeb,
Kecamatan Gunung Tabur, Kecamatan Segah, Kecamatan Teluk Bayur, Kecamatan Batu
Putih dan Kecamatan Biatan.
Secara geografis letak kabupaten ini berada tidak jauh dari
Garis Khatulistiwa dengan posisi berada antara 116o sampai dengan
119o Bujur Timur dan 1o sampai dengan 2o33’
Lintang Utara. Adapun batas wilayah : bagian utara Kabupaten Bulungan; bagian
timur Laut Sulawesi; bagian selatan Kabupaten Kutai Timur: bagian barat Kabupaten
Malinau, Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten
Kutai Kertanegara.
Letak Geografis
Kabupaten Berau yang dekat dengan Garis
Khatulistiwa menyebabkan daerah ini memiliki iklim tropis dengan curah hujan
yang tinggi dan hari hujan merata sepanjang tahun. Intensitas penyinaran matahari
yang tinggi menjadikan suhu udara relatif tinggi sepanjang tahun dengan
kelembaban yang tinggi pula. Curah hujan di Kabupaten Berau berkisar antara
105,9 – 493,1 mm3 perbulan sedangkan hari hujan cendrung merata
sepanjang tahun berkisar antara 14 sampai 26 hari tiap bulannya. Temperatur
udara sepanjang tahun relatif konstan dengan suhu minimum berkisar antara 21,2o
C – 22o C sedangkan suhu tertinggi berkisar antara 30o C
- 35o C dengan suhu rata-rata berkisar antara 26.2o C sampai dengan 27o C. Kelembaban
udara selama tahun 2007 berkisar antara 50 – 100 % perbulannya. Kelembaban
udara terendah terjadi pada bulan September dan Oktober sebesar 50 %, sedangkan tingkat kelembaban
tertinggi terjadi pada bulan April, Agustus, November, dan Desember yaitu sebesar 100 %. (BPS, 2008).
Iklim merupakan
komponen utama penentu keberhasilan usaha tani khususnya curah hujan, jumlah
hari hujan dan durasi musim kemarau sangat mementukan pilihan komoditas dan
manajemen yang diterapkan petani. Dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun menjadikan
daerah Kabupaten Berau sebagai wilayah dengan agroklimat basah (< 2 bulan
kemarau). Curah hujan (panjangnya musim
kemarau) mencerminkan ketersedian pakan ternak sepanjang tahun, dan secara umum
mencerminkan ketersedian air tanah.
Curah hujan yang merata sepanjang tahun merupakan daya dukung
pengembangan ternak sapi di Kabupaten Berau, khususnya dalam penyediaan hijauan
makanan ternak baik HMT alam maupun pengembangan HMT unggul.
4.1.2.
Kepadatan
ternak di Kabupaten Berau
Kepadatan ternak dibedakan dalam
tiga tipe kepadatan, yaitu : kepadatan ekonomi (kreteria yang dipakai dalam
jenjang nilai), kepadatan usaha tani atau kepadatan UT dan kepadatan wilayah.
Kedua tipe kepadatan yang terakhir hanya merupakan pelengkap informasi untuk
tipe kepadatan yang pertama. Kepadatan ekonomi ternak ruminansia digolongkan
menjadi 4 yaitu : sangat padat ( 300 – 500 ST/1000 orang), padat (100 – 300
ST/1000 orang), sedang (50 – 100 ST/1000 orang) dan jarang ( < 50 ST/1000
orang) (Dirjen Peternakan dan Balitnak, 1995).
Tabel 3. Kepadatan ekonomi dan wilayah ternak sapi di Kabupaten
Berau
|
KECAMATAN
|
JUMLAH
|
LUAS
|
KEPADATAN
|
POPULASI
|
SATUAN
|
KEPADATAN
|
KEPADATAN
|
|
PENDUDUK
|
WILAYAH
|
(PENDUDUK/
|
SAPI
|
TERNAK
|
EKONOMI (ST/
|
WILAYAH
|
|
|
(JIWA)
|
(KM2)
|
KM2)
|
(EKOR)
|
(ST)
|
1000 0RANG)
|
(ST/KM2)
|
|
|
Kelay
|
5.259
|
6.134,6
|
0,86
|
62
|
41,00
|
7,79
|
0,006
|
|
Talisayan
|
8.743
|
1.798
|
4,86
|
1.255
|
827,00
|
94,59
|
0,46
|
|
Tabalar
|
6.177
|
2.373,45
|
2,60
|
388
|
250,50
|
40,55
|
0,10
|
|
Biduk-biduk
|
6.795
|
3.002,99
|
2,26
|
1.071
|
686,25
|
100,99
|
0,23
|
|
Pulau Derawan
|
8.253
|
3.858,96
|
2,14
|
164
|
107,00
|
12,96
|
0,03
|
|
Maratua
|
3.263
|
4.118,80
|
0,79
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
Sambaliung
|
24.435
|
2.403,86
|
10,16
|
1.594
|
1.062,75
|
43,49
|
0,44
|
|
Tanjung Redeb
|
53.071
|
23,76
|
2.233,63
|
314
|
207,5
|
3,90
|
8,73
|
|
Gunung Tabur
|
14.807
|
1.987,02
|
7,45
|
1.149
|
744,75
|
50,29
|
0,37
|
|
Segah
|
6.907
|
5.166,40
|
1,34
|
696
|
461,25
|
66,78
|
0,09
|
|
Teluk Bayur
|
16.750
|
175,70
|
95,33
|
1.427
|
949,75
|
56,70
|
5,40
|
|
Batu Putih
|
5.493
|
1.651,42
|
3,33
|
653
|
428,75
|
78,05
|
0,26
|
|
Biatan
|
4.548
|
1.432,04
|
3,18
|
397
|
258,50
|
56,84
|
0,18
|
|
Jumlah
|
164.501
|
34.127
|
|
9.170
|
6.025
|
||
|
Rata-rata
|
|
|
4,82
|
|
|
36,63
|
0,18
|
Sumber : BPS, 2008,
Disnak 2008.
Dari
tabel 3. terlihat secara keseluruhan Kabupaten Berau mempunyai kepadatan ekonomi
ternak sapi sebesar 36,63 ST/1000 jiwa
penduduk, ini menunjukkan kepadatan ekonomi ternak jarang (< 50 ST/1000 jiwa
penduduk). Selanjutnya kepadatan ekonomi ternak perkecamatan dapat digolongkan
menjadi dua yaitu kepadatan ekonomi ternak jarang dan kepadatan ekonomi ternak
sedang. Kepadatan ekonomi ternak jarang (< 50 ST/1000 jiwa penduduk) terdiri
dari 6 kecamatan yang meliputi kecamatan; Kelay, Tabalar, Pulau Derawan,
Maratua, Sambaliung, Tanjung Redeb. Kepadatan ekonomi ternak sedang (50 – 100
ST/1000 jiwa penduduk) terdiri dari 7
kecamatan yaitu ; Talisayan,
Biduk-biduk, Segah, Teluk Bayur, Batu Putih, Biatan dan Gunung Tabur.
Kepadatan
ekonomi ini menggambarkan dampak keberadaan ternak sapi terhadap konsumsi dan
peningkatan pendapatan. Kepadatan ekonomi untuk ternak sapi sebesar 36,63
ST/1000 jiwa penduduk mencerminkan Kabupaten Berau mempunyai potensi yang cukup
besar untuk mengembangkan ternak sapi
hingga mencapai kepadatan ekonomi untuk ternak sapi 300 – 500 ST/1000
jiwa penduduk.
Penduduk
sebagai sumber daya manusia, merupakan pengelola dan sekaligus konsumen yang
membentuk pasar sampai pada batas kepadatan 5.000 jiwa/km2, masih
memberikan peluang bagi peran penduduk untuk mengelola ternak walaupun makin
terbatas. Di atas kepadatan wilayah 5.000 jiwa/km2, praktis tidak
lagi memberi peluang pengelolaan ternak, namun merupakan pusat konsumen dan
jasa, dimana hampir tidak ada lagi ruang dan tempat untuk mengelola ternak.
Kepadatan penduduk Kabupaten Berau sebesar 4,82 jiwa/km2
menggolongkan wilayah ini sebagai wilayah jarang penduduk (< 25 jiwa/km2), daerah ini
merupakan daerah penyebaran penduduk dan sekaligus merupakan daerah penyebaran
dan pengembangan ternak
Kepadatan
wilayah untuk ternak ruminansia digolongkan menjadi 4 yaitu : sangat padat (
> 50 ST/km2), padat (20 – 50 ST/km2), sedang (10 –
20 ST/km2) dan jarang
(< 10 ST/km2). Dari tabel 3. terlihat kepadatan wilayah
untuk ternak sapi di Kabupaten Berau rata-ratanya sebesar 0,18 ST/km2
ini menunjukkan kepadatan ternak sapi tergolong kepadatan ternak jarang
demikian juga untuk setiap kecamatan. Kepadatan wilayah merupakan daya dukung
untuk pengembangan ternak selanjutnya dengan kepadatan ternak sapi sebesar 0,18
ST/km2 Kabupaten Berau mempunyai daya dukung wilayah pengembangan
ternak yang sangat besar hingga mencapai kepadatan wilayah untuk ternak sapi
sebesar 50 ST/km2.
Khusus
untuk wilayah Kecamatan Maratua
pengembangan ternak sapi tidak memungkinkan untuk dilaksanakan karena
tidak didukung oleh potensi wilayah khususnya ketersedian pakan dan air
minum. Wilayah kecamatan ini terdiri
dari beberapa pulau karang dan secara keseluruhan penduduknya sebagai nelayan.
4.2.
Identitas
Responden
Identitas responden yang dimaksud
meliputi umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, pengalaman beternak sapi, jumlah
tanggungan keluarga, daerah asal transmigrasi, kepemilikan lahan dan kelompok
ternak.
4.2.1. Umur responden
Umur berkaitan erat dengan produktivitas tenaga kerja.
Semakin tua usia seseorang semakin berkurang produktivitasnya. Sebaliknya
semakin muda usia seseorang dalam arti termasuk angkatan kerja produktif, maka
semakin produktif tenaganya untuk digunakan dalam satu pekerjaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan umur responden sebagai penggaduh Sapi Bali
bantuan pemerintah pada unit pemukiman transmigrasi di Kabupaten Berau
adalah 43,37 tahun dengan kisaran umur antara 25
sampai 64 tahun : yaitu umur responden pada kisaran 25 – 35 tahun sebanyak 24
responden atau 23,53 %, umur responden
pada kisaran 36 – 45 tahun sebanyak 39 responden atau 38,23 %, umur responden
46 – 55 tahun sebanyak 26 responden atau 25.5 %, dan terkahir umur responden
pada kisaran 56 – 65 tahun sebanyak 13 responden atau 12,75 % seperti tampak
pada tabel 4.
Tabel 4. Kisaran umur responden peternak penggaduh
|
KISARAN UMUR (TAHUN)
|
JUMLAH RESPONDEN
|
PERSENTASE (%)
|
|
25 - 35
|
24
|
23,53
|
|
36 - 45
|
39
|
38,24
|
|
46 - 55
|
26
|
25,49
|
|
56 - 65
|
13
|
12,75
|
|
Jumlah
|
102
|
100
|
|
Rata-rata 43,37
|
Sumber : Data primer diolah (2009)
Jika umur responden dibandingkan
dengan umur produktif (15 – 64 tahun) maka umur ke 102 responden tergolong
dalam umur produktif, yang berarti peternak penggaduh mampu untuk memanfaatkan
tenaganya sepanjang tahun agar mereka memproleh pendapatan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
4.2.2. Tingkat pendidikan responden
Tingkat pendidikan umumnya menggambarkan kemampuan dari
masyarakat dalam mengadopsi inovasi dan teknologi yang berkembang dan juga
berpengaruh terhadap kemampuan berkomonikasi
serta merupakan cerminan status sosial di tingkat masyarakat.
Semakin tinggi pendidikan seseorang makin tinggi pula nilai
potensinya, walaupun tanpa pendidikan formal pun dapat melakukan pemeliharaan
ternak dengan baik. Responden yang
berpendidikan lebih tinggi diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi
masyarakat disekitarnya yang berpendidikan lebih rendah, atau yang tidak
mengenyam pendidikan. Sehubungan dengan itu maka kesiapan peternak dalam
intensifikasi atau agribisnis harus mempunyai muatan paling sedikit dapat
membaca dan menulis atau tamat SD. Selanjutnya tingkat pendidikan responden
dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel
5. Tingkat pendidikan responden
|
TINGKAT PENDIDIKAN
|
JUMLAH REPONDEN
|
PERSENTASE (%)
|
|
Tidak sekolah
|
9
|
8,82
|
|
Tidak tamat SD
|
24
|
23,53
|
|
Tamat SD
|
31
|
30,39
|
|
Tamat SLTP
|
21
|
20,59
|
|
Tamat SLTA
|
17
|
16,67
|
|
Jumlah
|
102
|
100
|
Sumber : Data primer diolah (2009).
Jika dilihat dari aspek sosial budaya,
tingkat pendidikan responden bervariasi dari tidak sekolah sampai SLTA.
Sebanyak 32,35 % responden tidak sekolah
dan tidak tamat SD (8,82 % responden tidak sekolah dan 23,53 % responden tidak
tamat SD), sedangkan 76,47 % menamatkan pendidikan dengan tingkat pendidikan
sebagai berikut : 30,39 % tamat SD, 20,59 % tamat SLTP dan 16,67 % tamat SLTA.
Jika dilihat dari segi pendidikan responden tergolong relatif rendah karena
hanya 37,26 % tamat SLTP dan SLTA hal
ini menyebabkan rendahnya kemampuan peternak dalam merespon maupun mengadopsi
inovasi dan teknologi baru. Untuk hal tersebut peternak perlu diberikan
pelatihan baik mengenai manajemen pemeliharaan sapi maupun aplikasi
teknologinya. Menurut AAK (1995) dalam Siswati dan Mutahar (2005) efisiensi
usaha ternak tergantung pada peternak itu sendiri dalam kaitannya dengan ilmu
pengetahuan, keterampilan, dan teknologi pengelolaan secara efisien. Tingkat
pendidikan yang relatif tinggi memungkinkan peternak mengadopsi penyuluhan dan
bimbingan yang diberikan pemerintah dengan lebih baik sehingga mampu
meningkatkan kualitas pemeliharaan ternaknya.
4.2.3. Pengalaman responden beternak
Pengalaman beternak diartikan sebagai informasi informal
yang diproleh melalui rutinitas usaha tani ternak sehari-hari atau peristiwa
yang pernah dialami. Petani dalam mengelola usahatani ternaknya tidak terlepas
dari pengalaman yang telah diperoleh. Pengalaman beternak sangat menentukan
berhasil tidaknya seorang peternak di dalam memelihara ternaknya. Termasuk di
dalam pemeliharaan Sapi Bali yang sangat ditentukan oleh lamanya beternak.
Dari tabel 6
terlihat bahwa 44 atau 43,14 %
responden memiliki pengalaman 1 – 5
tahun dalam memelihara ternak sapi, 35
atau 34,31 % responden mempunyai pengalaman memelihara sapi 6 – 10
tahun, 15 atau 14,7 % responden memiliki pengalaman beternak
sapi selama 16 – 20 tahun, 2 atau 1,96 %
responden memiliki pengalaman beternak sapi selama 21 – 25 tahun dan 1 atau 0,98 % responden memiliki pengalaman
beternak sapi selama 26 – 30 tahun Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman
memelihara sapi dari responden yang rata-rata 7,69 ± 5,79 tahun relatif belum
merupakan modal yang potensial bagi peternak dalam mengembangkan usahanya.
Tabel 6. Pengalaman responden
beternak Sapi.
|
PENGALAMAN
(TAHUN)
|
JUMLAH RESPONDEN
|
PERSENTASE
(%)
|
|
1 - 5
|
44
|
43.14
|
|
6 - 10
|
35
|
34.31
|
|
11 - 15
|
15
|
14.70
|
|
16 - 20
|
5
|
4.90
|
|
21 - 25
|
2
|
1.96
|
|
26 - 30
|
1
|
0.98
|
|
Jumlah
|
102
|
100
|
|
Rata-rata 7.69
|
Sumber
: Data primer diolah (2009)
Pengalaman beternak sapi erat hubungannya
dengan tingkat keterampilan dan kemampuan setiap individu peternak dalam
memelihara ternak gaduhannya. Semakin lama pengalaman peternak, maka semakin
baik pula hasil yang akan dicapai peternak.
4.2.4. Jumlah tanggungan keluarga responden
Jumlah
tanggungan keluarga mencerminkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh
suatu keluarga dalam rumah tangga. Tanggungan keluarga juga merupakan salah
satu sumberdaya manusia pertanian yang dimiliki petani, terutama yang berusia
produktif dan ikut membantu dalam usahataninya.
Tanggungan keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah keseluruhan anggota keluarga yang masih dibiayai oleh kepala keluarga
(responden), seperti istri, anak, orang tua dan saudara yang belum bekerja.
Adapun jumlah tanggungan keluarga dari responden disajikan pada tabel 7.
Tabel 7. Kisaran
jumlah tanggungan responden.
|
TANGGUNGAN
(ORANG)
|
JUMLAH
RESPONDEN
|
PERSENTASE
(%)
|
|
0 - 2
|
32
|
31,37
|
|
3 - 4
|
56
|
54,91
|
|
5 - 6
|
11
|
10,78
|
|
7 - 8
|
3
|
2,94
|
|
Jumlah
|
102
|
100
|
|
Rata-rata 3,16
|
|
|
Sumber
: Data primer diolah (2009)
Tabel 7 diatas menunjukkan, bahwa jumlah tanggungan
keluarga responden rata-rata 3,16 orang
dengan tanggungan responden berkisar
dari keluarga menengah sampai besar,
sehingga konsekuensinya tentu membutuhkan biaya hidup yang cukup besar
juga. Pekerjaan pokok responden adalah
sebagai petani maka program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah ini sangat
membantu pendapatan petani dan sekaligus dapat memanfaatkan sumber daya manusia
yang masih menjadi tanggungan responden untuk memelihara ternak.
4.2.5. Asal responden pada pemukiman transmigrasi
Dalam suatu kehidupan bermasyarakat di daerah transmigrasi,
pada daerah baru tersebut biasanya berkumpul dan bertemu dengan beberapa golongan
etnik atau suku dimana setiap etnik mepunyai latar belakang sosial budaya yang
berbeda. Khususnya dalam bidang usahatani peserta transmigrasi yang berasal
dari pulau Jawa dan Nusa Tenggara Barat mempunyai pengalaman yang lebih dibanding
dengan peserta transmigrasi yang berasal
dari daerah lain khususnya dalam usahatani yang besifat intensifikasi.
Hasil penelitian menunjukan, bahwa responden pada pemukiman transmigrasi berasal
dari lima daerah yaitu : pulau Jawa 60 orang atau 58,82 %, Nusa Tenggara Barat 15
orang atau 14,71 %, Nusa Tenggara Timur
11 orang atau 10,78 %, Kalimantan 1 orang atau 0,98 % dan Sulawesi 15 orang atau 14,71 %. Untuk lebih jelasnya data daerah
asal peternak penggaduh Sapi Bali bantuan pemerintah pada pemukiman
transmigrasi disajikan pada tabel 8.
Tabel
8. Daerah asal respoden
|
DAERAH ASAL
|
JUMLAH RESPONDEN
|
PERSENTASE (%)
|
|
Jawa
|
60
|
58,82
|
|
Nusa Tenggara Barat
|
15
|
14,71
|
|
Nusa Tenggara Timur
|
11
|
10,78
|
|
Kalimantan
|
1
|
0,98
|
|
Sulawesi
|
15
|
14,71
|
|
Jumlah
|
102
|
100
|
Sumber : Data
primer diolah (2009).
4.2.6. Luas kepemilikan lahan
Lahan merupakan
aset yang sangat penting bagi masyarakat pedesaan, khususnya bagi wilayah yang
kegiatan produksinya bersifat landbase
atau usaha tani. Tingkat dan distribusi pemilikan lahan sering kali dijadikan
gambaran pemerataan faktor produksi sebagai sumber pendapatan bahkan indikator
tingkat kesejahtraan masyarakat.
Kepemilikan lahan dari setiap responden dalam penelitian
ini adalah merata, semua responden memiliki lahan sebanyak 2 ha yang terbagi
menjadi 3 lokasi yaitu 0,25 Ha lahan pekarangan, 0,75 Ha lahan usaha I dan 1 Ha
lahan usaha II. Kepemilikan lahan ini berdasarkan hak yang diperoleh sebagai
peserta transmigrasi yang disesuaikan dengan undang-undang pokok agraria
mengenai batas minimum buat tanah pertanian yang dapat dimiliki oleh perorangan
dengan pengertian dapat diberikan lebih dari 2 Ha jika kemampuan mengerjakan
tanah dan persedian tanah memungkinkan. Berikut ini data kepemilikan tanah
disajikan dalam tabel 9.
Tabel 9. Luas lahan yang dimiliki seluruh responden.
|
URAIAN
|
LUAS (HA)
|
PERSENTASE (%)
|
|
Lahan sudah dikelola
|
102
|
50
|
|
Lahan belum dikelola
|
102
|
50
|
|
Jumlah
|
204
|
100
|
Sumber : Data primer diolah (2009)
Dari tabel 9. terlihat bahwa secara keseluruhan responden baru mampu memanfaatkan 102 Ha dari 204 Ha lahan yang dimilikinya
untuk usahatani. Pada umumnya lahan pekarangan yang seluas 0,25 Ha oleh
responden dimanfaatkan untuk menanam sayur dan jenis tanaman hortikultura,
untuk lahan usaha I yang seluas 0,75 ha dimanfaatkan untuk tanaman pekerbunan
yang meliputi tanaman merica, kopi dan coklat. Lahan usaha II seluas 1 ha yang dimiliki oleh setiap
responden atau seluas 102 Ha dari semua responden sama sekali belum dimanfaatkan untuk usaha
tani.
Ada beberapa hal yang menyebabkan lahan usaha II belum
dimanfaatkan oleh responden untuk usahatani yaitu : keterbatasan modal, hama babi dan monyet, lokasi yang agak jauh
dari pemukiman petani sejauh 1 – 2 km.
kekurangan tenaga kerja dan kondisi tanah yang kurang subur.
Dari permasalahan yang dialami responden dalam pengelolaan
lahan usaha II, lahan ini mempunyai potensi untuk dikelola sebagai pengembangan
ternak ruminansia khususnya sumber pakan ternak, kondisi lahan usaha II yang
ditumbuhi rumput alam tersebut baru dimanfaatkan sebagai tempat menggembalakan
ternak sapi secara terikat setelah responden mendapat bantuan ternak oleh
pemerintah.
Untuk lebih memanfaatkan potensi lahan ini dibidang
peternakan perlu program pembangunan peternakan secara intensif dengan program
pengembangan hijauan makanan ternak unggul pada lahan usaha II serta menambah
volume ternak gaduhan yang dibarengi dengan pengawasan dan pembinaan yang lebih
intensif baik per kelompok ternak maupun per peternak dari intansi terkait.
4.2.7.
Kelompok
tani
Kelompok tani merupakan wadah berkumpulnya para petani yang keberadaanya secara sah telah diakui oleh
pemerintah. Keberadaan kelompok tani di pedesaan sangat membantu kinerja
pemerintah di dalam pembangunan pertanian, dimana kelompok tani mempunyai
peranan yang besar dalam pembangunan pertanian terutama dalam menerima inovasi dan teknologi yang
disampaikan oleh pemerintah melalui penyuluh pertanian. Gambaran kelompok
ternak penggaduh Sapi Bali bantuan pemerintah dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Kondisi
kelompok tani ternak
|
NAMA
KELOMPOK
|
TAHUN
DIBENTUK
|
JUMLAH
ANGGOTA
|
PROGRAM KERJA
|
PERATURAN
/AWIG-AWIG
|
|
Mekar Jaya
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
Siduung Jaya
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
Rantau Bumi Subur
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
Sumber Rejeki
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
Semangat Baru
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
Manunggal Jaya
|
2005
|
17 orang
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Sumber
: Data primer diolah (2009)
Dari tabel 10.
diatas dapat diketahui, bahwa
semua kelompok ternak pengganduh Sapi Bali bantuan pemerintah dibentuk
pada tahun yang sama yaitu pada tahun 2005 dengan jumlah anggota sama yaitu 17 orang serta tidak mempunyai program kerja.
Data ini menunjukkan bahwa pembentukan kelompok ternak tersebut semata-mata
bertujuan untuk memenuhi persyaratan dalam menerima gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah. Selain
tidak mempunyai program kerja semua kelompok ternak juga tidak mempunyai peraturan
atau awig-awig yang mengatur kelompok ternak tersebut. Aktivitas kelompok hanya
aktif pada saat mau menerima ternak bantuan, setelah sapi bantuan diterima
aktivitas kelompok sama sekali tidak ada.
Kemandirian kolompok tani memegang peranan penting dalam
pembangunan pertanian atau sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, maka
kelompok tani ini sangat diperlukan keberadaannya di masyarakat sehingga
diperlukan pembinaannya secara berkelanjutan baik dibidang organisasi,
manajemen dan teknis.
Khusus dalam pengelolaan bantuan pemerintah dibidang
pertanian kelompok tani merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pengelolaan
bantuan pemerintah. Dengan adanya program kerja, aturan atau awig-awig serta
sangsi dari kelompok tani maka bantuan pemerintah akan dapat berkembang di masyarakat
dan bergulir kepada masyarakat yang belum menerima bantuan.
Dalam upaya mendukung keberhasilan gaduhan Sapi Bali
bantuan pemerintah, diperlukan pembinaan yang lebih intensif pada kelompok
ternak yang meliputi program pembangunan
peternakan, teknis dan awig-awig serta sangsi, khususnya dalam pengawasan
ternak bantuan perlu adanya pembinaan dari fihak kepolisian atau kejaksaan
mengenai sangsi bagi penggaduh yang menjual ternak gaduhan yang masih merupakan
asset negara sehingga kasus penjualan ternak gaduhan dapat dicegah.
4.3.
Dampak
Program Bantuan Pemerintah
4.3.1.
Dampak
program bantuan pemerintah terhadap status pemilikan ternak pribadi.
Pembangunan peternakan pada pemukiman transmigrasi tidak lepas
dari tiga faktor yaitu : pemerintah sebagai perencanaan dan fasilitator
pembangunan peternakan, peternak sebagai subyek atau pelaku dari pembangunan
peternakan dan ternak sendiri sebagai obyek dari pembangunan peternakan.
Penyebaran gaduhan Sapi
Bali bantuan pemerintah pada tanggal 16-12-2005 sebanyak 222 ekor yang terdiri
dari 18 ekor sapi jantan dan 204 ekor sapi betina dengan jumlah penggaduh
sebanyak 102 orang pada 6 unit pemukiman
transmigrasi di Kabupeten Berau. Diharapkan selama
3 tahun masa gaduhan akan bertambah penggaduh baru (penggaduh II) sebanyak 102
peternak (dari induk yang disetor sebanyak 204 ekor dan penggantian 18 ekor
pejantan yang dilelang oleh pemerintah) dan peternak pemilik sebanyak 102
peternak (ternak hasil gaduhan sebanyak 204). Asumsinya adalah Sapi Bali yang
digaduh sudah berumur 18 bulan dan selama masa gaduhan tidak ada ternak yang mati, tidak ada penjualan ternak gaduhan
dan tidak ada ternak yang majir serta tidak ada pelanggaran perjanjian kontrak
gaduhan ternak sapi.
Indikator yang dapat
dipakai untuk mengetahui dampak program bantuan pemerintah terhadap status
pemilikan ternak adalah perubahan status peternak penggaduh menjadi peternak
pemilik hal ini dapat diketahui dari hasil yang diperoleh penggaduh dari pemeliharaan
sapi gaduhan. Ada dua jenis hasil yang
diperoleh penggaduh dari program gaduhan
Sapi Bali bantuan pemerintah yang dapat dipakai untuk melihat dampak dari
program bantuan pemerintah terhadap perubahan status pemilikan ternak yaitu
: Pertama hasil ternak gaduhan sapi betina
berupa anak sapi (turunan I) umur 8 bulan yang akan menjadi hak milik penggaduh sesuai surat perjanjian
kontrak gaduhan. Kedua pendapatan dari (nilai penggemukan ternak jantan) hasil
pelelangan ternak pejantan sebanyak 70 % dari keuntungan menjadi hak penggaduh,
diharapkan nilainya setara dengan 1 ekor
anak sapi umur 8 bulan.
Dari tabel 11. di
ketahui secara keseluruhan program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah dapat memberikan dampak sebesar 41, 44 % (92 ekor ternak pribadi) terhadap staus
pemilikan ternak pribadi. Terdiri dari dampak gaduhan ternak betina sebesar
39,94 % (82 ekor anak sapih) dan ternak
jantan sebesar 4,50 % (nilai pendapatan
pejantan setara 10 ekor anak sapih umur 8 bulan) dari jumlah ternak awal yang
disebarkan pada tahuan 2005.
Jumlah peternak yang akan
memiliki ternak pribadi dari hasil ketururan gaduhan sapi betina sebanyak 61
orang, dengan pemilikan bervariasi dari
1 sampai 2 ekor. Sebanyak 21 peternak memiliki sapi pribadi sebanyak 2 ekor dan
40 peternak memiliki sapi pribadi sebanyak 1 ekor dari hasil gaduhan sapi
betina, termasuk juga didalamnya nilai dari pendapatan 10 ekor sapi pejantan
yang setara dengan 10 ekor anak sapi umur 8 bulan (70 % dari keuntungan yang
setara dengan 1 ekor sapi umur 8 bulan).
Namun demikian sampai saat ini proses
perubahan status pemilikan ternak ini
belum terjadi akibat adanya ketidak mampuan baik penggaduh maupun pemerintah untuk
mentaati kesepakatan yang telah dituangkan dalam surat perjanjian gaduhan ternak sapi.
Tabel 11 . Jumlah sapi
yang siap menjadi milik pribadi dari hasil gaduhan
|
URAIAN
|
JUMLAH
|
||||
|
TERNAK AWAL (EKOR)
|
PENGGADUH (ORANG)
|
TERNAK SIAP DIMILIKI
(EKOR)
|
PETERNAK (ORANG)
|
||
|
ANAK SAPIH 8 BULAN
|
NILAI PENDAPATAN
PEJANTAN SETARA 1 EKOR ANAK SAPIH
|
||||
|
Betina
|
204
|
40
|
|||
|
Jantan
|
18
|
42
|
10
|
||
|
Jumlah
|
222
|
102
|
82
|
10
|
61
|
|
Persentase dari total ternak awal (%)
|
39,94
|
4,50
|
|||
|
Persentase total
ternak pribadi dengan total ternak
awal (%)
|
41.44
|
|
|||
Sumber : Data Primer
diolah (2009)
4.3.2.
Dampak
program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah terhadap ternak gaduhan Baru
(periode II)
Dampak program gaduhan Sapi Bali bantuan
pemerintah terhadap ternak gaduhan baru ( periode II) dapat dilihat dari banyaknya sapi induk
yang siap disetor oleh penggaduh awal (penggaduh I) dan jumlah penggantian sapi
pejantan jika dilelang oleh pemerintah. Dengan
mengesampingkan permasalahan yang terjadi pada pelaksanaan program gaduhan Sapi
Bali bantuan pemerintah maka sampai pada tanggal 30 Maret 2009, pemerintah akan
memperoleh ternak setoran dari penggaduh pertama sebanyak 82 ekor induk yang
siap digulirkan kepada penggaduh baru, dan penggantian ternak pejantan sebanyak
10 ekor jika sapi pejantan dilelang pada gaduhan periode pertama. Jumlah sapi
gaduhan yang siap setor dan calon penggaduh
baru disajikan pada tabel 12.
Tabel
12. Jumlah sapi siap setor dan calon penggaduh baru.
|
URAIAN
|
JUMLAH
|
||||||
|
TERNAK AWAL (EKOR)
|
PENGGADUH (ORANG)
|
TERNAK SIAP SETOR
(EKOR)
|
CALON PENGGADUH BARU
(ORANG)
|
||||
|
INDUK
|
PEJANTAN PENGGANTI
|
||||||
|
Betina
|
204
|
82
|
|||||
|
Jantan
|
18
|
10
|
|||||
|
Jumlah
|
222
|
102
|
82
|
10
|
41
|
||
|
Persentase dari total ternak awal (%)
|
39, 94
|
4,50
|
|||||
|
Persentase total
ternak setoran dengan total ternak
awal (%)
|
41.44
|
||||||
|
Persentase penggaduh
baru dengan penggaduh awal (%)
|
|
40.20
|
|||||
Sumber : Data primer
diolah (2009)
Dari tabel 12. terlihat program
gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah dapat memberikan dampak sebesar 39,94 %
(82 induk siap setor) dan 4,50 % (10
pejantan pengganti) dari populasi ternak awal yang disebarkan pada tahun 2005.
Secara keseluruhan dari populasi ternak awal program gaduhan Sapi Bali bantuan
pemerintah dapat memberikan dampak sebesar 41,44 % (92 ekor sapi siap setor)
terhadap jumlah ternak gaduhan periode II. Selajutnya terhadap jumlah calon penggaduh
baru program gaduhan Sapi Bali dapat memberikan dampak sebesar 40,20 % (41
orang calon penggaduh periode II) dengan strata ternak gaduhan sama dengan
penggaduh pertama yaitu : 2 ekor betina serta 1 ekor pejantan dan 2 ekor
betina.
4.3.3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
dampak program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah.
Keberhasilan
pengembangan program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah pada pemukiman
transmigrasi di Kabupaten Berau dipengaruhi oleh faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis
sendiri dapat dilihat dari produktivitas
Sapi Bali, sedangkan faktor non teknis meliputi sikap mental dari penggaduh dan
petugas Dinas Pertanian dan Peternakan
yang menjembatani program bantuan pemerintah.
4.3.3.1. Faktor teknis
Faktor teknis yang
mempengaruhi dampak program bantuan
pemerintah terhadap status perubahan kepemilikan Sapi Bali bantuan adalah teknis produksi yang meliputi umur sapi
saat diterima penggaduh, kematian ternak, penjualan ternak gaduhan, kelahiran
dan penyapihan pedet, kemajiran ternak dan pelelangan ternak pejantan.
4.3.3.1.1. Umur sapi bibit.
Sesuai dengan surat
perjanjian kontrak gaduhan ternak sapi (2005) setiap peternak yang menggaduh
Sapi Bali bantuan pemerintah akan menerima Sapi Bali dengan umur 18 bulan atau sudah dewasa
kelamin. Kisaran umur Sapi Bali yang diterima oleh penggaduh pada awal pemeliharaan
disajikan pada tabel 13.
Tabel 13. Kisaran umur Sapi Bali pada saat diterima penggaduh
|
KISARAN UMUR (BULAN)
|
JUMLAH TERNAK (EKOR)
|
PERSENTASE (%)
|
|
8 - 10
|
86
|
38,74
|
|
11 - 13
|
92
|
41,44
|
|
14 - 16
|
27
|
12,16
|
|
17 - 19
|
17
|
7,66
|
|
Jumlah
Rataan 11,5 1± 276
|
222
|
100
|
Sumber : Data primer diolah (2009).
Dari tabel 13. diatas terlihat bahwa rata-rata keseluruhan
umur Sapi Bali gaduhan saat diterima penggaduh adalah 11,51 ± 2,76 bulan dengan
kisaran umur dari 8 bulan sampai 18 bulan. Dari kisaran umur sapi yang diterima
penggaduh terlihat bahwa hanya 7,66 %
bibit sapi berumur pada kisaran 17 – 19 bulan (sesuai umur kontrak
gaduhan) sedangkan sisanya sebanyak 92,34%
berada dibawah umur kontrak gaduhan. Dari kisaran umur sapi yang
dibagikan mencerminkan sapi yang
diterima penggaduh belum mencapai dewasa kelamin, sehingga penggaduh memerlukan
waktu pemeliharaan sekitar 6 - 13 bulan
sampai sapi tersebut dewasa kelamin dan siap dikawinkan. Umur pubertas Sapi
Bali gaduhan pada pemukiman transmigrasi untuk sapi jantan rata-rata dicapai pada umur 20,50 ± 0,97
bulan dan sapi betina pada umur 21.35 ± 1.53 bulan,
hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Guntoro (2002) Sapi Bali mencapai dewasa kelamin pada kisaran
umur 18 sampai 24 bulan.
4.3.3.1.2.
Kematian
ternak
Keberhasilan pengembangan Sapi Bali dengan pola
gaduhan tidak lepas dari banyaknya ternak sapi yang mati, semakin banyak ternak
yang mati maka semakin kecil pula keberhasilan dari program tersebut. Upaya
untuk mengantisipasi kerugian peternak penggaduh akibat kematian sapi gaduhan yang
diakibatkan oleh penyakit dan bukan disebabkan oleh kelalaian pihak penggaduh, pemerintah
memberikan prioritas untuk memproleh
bantuan ternak yang baru. Jumlah gaduhan Sapi Bali yang mati akibat penyakit
secara rinci dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel
14. Jumlah kematian gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah
|
URAIAN
|
TERNAK AWAL
|
JUMLAH
RESPONDEN
|
TERNAK MATI
|
PERSENTASE (%)
|
|
Betina
(ekor)
|
204
|
31
|
31
|
15,20
|
|
Jantan (ekor)
|
18
|
6
|
6
|
33,33
|
|
Jumlah
|
222
|
37
|
37
|
16,66
|
Sumber : Data primer diolah (2009).
Dari tabel 14. diatas
dapat dilihat bahwa jumlah sapi yang
mati akibat penyakit adalah sebanyak 37 ekor dari 222 ekor sapi gaduhan
(populasi ternak dasar pada tahun 2006) atau 16,66 % dari total populasi ternak
dasar. Persentase kematian dari masing-masing jenis kelamin adalah sapi betina sebanyak 31 ekor atau 15,20 % dari total populasi sapi betina dan sapi jantan
sebanyak 6 ekor atau 33,33 % dari total populasi sapi jantan pada tahun 2006
dengan jumlah penggaduh sebanyak 37 responden.
Kematian
sapi seluruhnya terjadi pada tahun 2006, yaitu
tahun pertama periode gaduhan,
kematian disebabkan karena sakit diduga akibat pengangkutan dari daerah
sumber bibit. Akibat kematian sapi
karena sakit dan bukan karena kelalaian penggaduh maka penggaduh berhak
mendapatkan gaduhan ternak baru dari pemerintah sesuai surat perjanjian gaduhan
ternak sapi. Namun kenyataaannya hingga saat ini ternak yang mati tersebut
belum diganti oleh pemerintah. Karena pemerintah belum mendapatkan ternak
setoran dari penggaduh.
4.3.3.1.3. Penjualan ternak gaduhan
Penjualan ternak sangat
berpengaruh terhadap program
pengambangan Sapi Bali bantuan pemerintah, jika sapi gaduhan habis dijual maka
sapi tersebut tidak dapat berkembang apalagi penggaduh yang bersangkutan
tidak mau mengganti ternak tersebut. Alasan utama yang menyebabkan penggaduh
menjual ternak gaduhannya adalah akibat kondisi ekonomi.
Jumlah ternak gaduhan
yang dijual oleh penggaduh tanpa persetujuan pemerintah adalah sebanyak 23 ekor
dari 222 ekor sapi gaduhan (populasi ternak dasar pada tahun 2006) atau 10,36 % dari total populasi ternak dasar. Terdiri dari
sapi betina sebanyak 21 ekor atau 9,46 %
dan sapi jantan sebanyak 2 ekor atau 0,9 % dari jumlah seluruh populasi ternak
dasar pada tahun 2006, dengan jumlah penggaduh sebanyak 15 orang. Jumlah ternak yang dijual oleh penggaduh
disajikan pada tabel 15.
Tabel
15. Jumlah sapi gaduhan yang dijual penggaduh
|
URAIAN
|
TERNAK AWAL
|
JUMLAH
RESPONDEN
|
JUMLAH DIJUAL
|
PERSENTASE (%)
|
|
Betina (ekor)
|
204
|
13
|
21
|
9,46
|
|
Jantan (ekor)
|
18
|
2
|
2
|
0,9
|
|
Jumlah
|
222
|
15
|
23
|
10,36
|
Sumber
; Data primer diolah (2009)
Penjualan ternak oleh
penggaduh terjadi pada tahun pertama gaduhan yaitu tahun 2006 dan sampai sekarang
ternak yang dijual belum diganti oleh penggaduh. Untuk mengantisipasi terjadinya kasus penjualan ternak
gaduhan Dinas pertanian dan peternakan
telah berkordinasi dengan aparat desa dan ketua kelompok ternak untuk mengawasi
ternak gaduhan tersebut, tetapi cara ini belum memberikan hasil yang memuaskan.
Metode yang mungkin dapat untuk mencegah
terjadinya kasus penjualan ternak pemerintah adalah dengan memberikan
penyuluhan mengenai hukum terhadap status ternak gaduhan dari intasi terkait yaitu : kepolisian dan kejaksaan sebelum ternak
gaduhan di bagikan. Pembentukan kelompok baru yang akan menerima ternak guliran
(ternak redist) penggaduh periode kedua yang nantinya ditugaskan untuk
mengawasi perkembangan ternak gaduhan yang masih dipelihara oleh penggaduh
pertama sehingga peluang penggaduh untuk menjual ternak semakin kecil.
4.3.3.1.4. Kelahiran dan penyapihan pedet
Tujuan utama dari
program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah adalah untuk menumbuhkan
sentra-sentra bibit Sapi Bali, sehingga masyarakat peternak dapat dengan mudah
memproleh bibit Sapi Bali, serta pemerintah tidak perlu lagi mendatangkan bibit
Sapi Bali dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat. Jumlah kelahiran dan pedet
yang disapih selama periode gaduhan dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel
16. Jumlah induk sapi yang melahirkan dan anak sapih.
|
URAIAN
|
JML
|
MELAHIRKAN
|
LAHIR
|
PERSENTASE
|
SAPIH
|
PERSENTASE
|
|
(%)
|
(%)
|
|||||
|
Induk (ekor)
|
152
|
94
|
||||
|
Anak jantan (ekor)
|
43
|
28,29
|
40
|
42,55
|
||
|
Anak betina (ekor)
|
51
|
33,55
|
42
|
44,68
|
||
|
Jumlah
|
152
|
94
|
94
|
61,84
|
82
|
87,23
|
Sumber
: Data primer dioleh (2009)
Dari tabel 16. terlihat bahwa jumlah induk Sapi Bali gaduhan
yang beranak sampai 30 Maret 2009 adalah sebanyak 94 ekor dari seluruh jumlah
betina dewasa (152 ekor) atau 61,84%,
dengan penggaduh sebanyak 67 responden. Sedangkan jumlah anak yang sudah
disapih pada umur 8 bulan adalah sebanyak 82 ekor atau 87,23% dari seluruh induk melahirkan, dengan jumlah penggaduh 61 responden. Jumlah ternak sapi yang disapih
dari masing-masing penggaduh bervariasi dari 1 ekor sampai 2 ekor, sebanyak 21
penggaduh ternak yang di sapih masing-masing
berjumlah 2 ekor dan 40 penggaduh ternak yang disapih berjumlah 1 ekor.
Berdasarkan Surat Perjanjian Kontrak
Gaduhan Sapi, induk sapi gaduhan yang anaknya sudah disapih tersebut sudah bisa
disetor kepada pemerintah untuk digaduhkan kembali kepada masyarakat yang belum
mendapat ternak gaduhan atau bagi penggaduh yang ternak gaduhannya mati, tetapi
karena ternak awal yang dibagikan tidak sesuai dengan umur yang disepakati maka
penggaduh belum mau menyetor ternak induk kepada pemerintah.
4.3.3.1.5. Kegagalan reproduksi
Dari tabel 17 diketahui bahwa jumlah induk Sapi Bali
gaduhan yang mengalami kegagalan reproduksi atau tidak bunting sampai
30 Maret 2009 adalah sebanyak 58 ekor atau
38,15 % dari 152 ekor sapi betina dewasa pada tahun 2009, dengan jumlah
penggaduh 45 responden yang terdiri dari : 32 reponden ternak gaduhannya
mengalami gagal reproduksi sebanyak 1 ekor
dan 13 responden ternak gaduhaanya mengalami gagal reproduksi sebanyak 2
ekor. Besarnya jumlah sapi betina yang mengalami kegagalan reproduksi ini menyebabkan
ternak tersebut belum dapat disetor kepada pemerintah (belum ada keturunannya) sehingga
penggaduh belum dapat memiliki ternak
pribadi. Jumlah induk sapi yang gagal reproduksi dapat dilihat pada tabel. 17.
Tabel
17. Jumlah induk Sapi mengalami kegagalan reproduksi
|
URAIAN
|
JUMLAH
RESPONDEN
|
JUMLAH
|
GAGAL REPRODUKSI
|
PERSENTASE
(%)
|
|
Induk (ekor)
|
152
|
58
|
38,16
|
|
|
Penggaduh
|
45
|
|||
|
Jumlah
|
45
|
152
|
58
|
38,16
|
Sumber
: Data primer diolah (2009)
Dari hasil penelitian diketahui bahwa induk sapi yang
mengalami kegagalan reproduksi sampai Maret 2009 belum terdaftar pada Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan
kabupaten, hal ini disebabkan petugas lapangan atau penyuluh pertanian tidak mengetahui ternak tersebut mengalami
kegagalan reproduksi, karena petugas tersebut berlatar belakang dari disiplin
ilmu pertanian dan perkebunan.
Adapun penyebab dari kegagalan reproduksi ini adalah kurangya pengetahuan penggaduh terhadap manejemen
reproduksi akibat tidak adanya pembinaan
teknis setelah sapi bantuan disebarkan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan,
sebaran pejantan yang tidak merata pada masing-masing unit pemukiman
transmigrasi akibat kematian dan penjualan pejantan yang belum diganti oleh
pemerintah maupun penggaduh serta lokasi pejantan yang jauh dengan lokasi
ternak betina sekitar 1 – 2 km.
Untuk mengatasi masalah ini diperlukan
penempatan penyuluh pertanian yang berlatar belakang dari disiplin ilmu
peternakan pada sentra-sentra ternak atau dengan memberikan pelatihan reproduksi kepada peternak dan petugas lapangan atau
penyuluh pertanian yang sudah ada. Tindakan yang paling penting dalam
penanganan sapi mengalami kegagalan reproduksi dan sekaligus mengurangi
kerugian pengganduh, pihak dinas sebagai pemberi ternak bantuan harus segara
menjual atau mengafkir ternak tersebut dan
penggaduh diberikan bagian 70 % dari
keuntungan, selanjutnya penggaduh
mendapat prioritas ternak gaduhan baru sesuai dengan kesepakatan
kontrak.
4.3.3.1.6.
Pelelangan
sapi pejantan
Sesuai
perjanjian kontrak gaduhan sapi pejantan baru dapat dilelang setelah sapi
tersebut dipelihara selama 4 tahun oleh
peternak, dengan pembagian hasil 70 % dari keuntungan menjadi hak penggaduh. Setelah sapi pejantan dilelang selanjutnya pemerintah mengganti
sapi tersebut dengan sapi jantan umur 18 bulan dan digaduhkan kembali kepada
penggaduh tahap kedua. Jumlah sapi
pejantan yang masih dipelihara sampai akhir penelitian disajikan pada tabel 18.
Tabel
18. Jumlah sapi pejantan dan nilai pendapatan peternak
|
URAIAN
|
JUMLAH
|
PENDAPATAN (Rp)
|
|
|
AWAL
|
AKHIR
|
||
|
Pejantan (ekor)
|
18
|
10
|
29.469.083,3
|
|
Responden
|
18
|
10
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
2.946.908,33
|
Sumber : Data primer diolah (2009)
Pada
tabel 18. diatas terllihat bahwa jumlah
sapi pejantan sampai tahun 2009 adalah sebanyak 10 ekor. Jika sapi tersebut
dilelang maka akan menghasilkan 10 ekor pejantan muda untuk digaduhkan pada
penggaduh baru (penggantian ternak dari pemerintah). Apabila pendapatan
peternak dari hasil pemeliharaan sapi jantan dibelikan bibit sapi maka setiap peternak dapat membeli 1 ekor
sapi umur 8 bulan (umur bibit 8 bulan Rp. 2.500.000 per ekor), jadi total sapi
bibit yang dapat dibeli dari pendapatan seluruh penggaduh adalah 10 ekor sapi
bakalan.
4.3.3.2. Faktor non teknis
Disamping faktor teknis
yang memberikan dampak terhadap perubahan status dari peternak penggaduh
menjadi peternak pemilik, faktor non teknis juga perlu mendapat perhatian
seperti sikap mental penggaduh dan keseriusan pemerintah dalam pembangunan peternakan di
pemukiman transmigrasi. Indikator yang dipakai untuk mengamati pengaruh faktor
non teknis terhadap perubahan status peternak penggaduh menjadi peternak
pemilik adalah perjanjian yang telah disepakati antara penggaduh dengan
pemerintah (Dinas Pertanian dan Peternakan) yang dituangkan dalam Surat
Perjanjian Gaduhan Ternak Sapi. Implementasi dari surat perjanjian gaduhan ternak
sapi disajikan pada tabel 19.
Tabel
19. Implementasi program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah.
|
URAIAN
|
KETENTUAN
|
TEREALISASI / TIDAK
|
|
Surat perjanjian
|
Kesepakatan penggaduh dengan pemerintah
|
Terealisasi
|
|
Kandang ternak
|
Penggaduh wajib memiliki kandang
|
Terealisasi
|
|
Umur sapi gaduhan
|
18 bulan (dewasa kelamin)
|
Tidak terealisasi
|
|
Bimbingan tekhnis
|
Rutin dilakukan oleh penyuluh/petugas tekhnis
|
Tidak teralisasi
|
|
Sapi gaduhan mati
|
Sapi mati karena sakit, perioritas untuk diganti
|
Tidak terealisasi
|
|
Sapi gaduhan Majir
|
Diafkir dan bagi hasil, perioritas untuk
diganti
|
Tidak terealisasi
|
|
Penggaduh
jual sapi
|
Diganti paling lambat 3 bulan dari penjualan
|
Tidak terealisasi
|
|
Penyetoran induk
|
Induk disetor setelah anak I berumur 8 bulan
|
Tidak terealisasi
|
Sumber
: Data primer diolah (2009).
Dari tabel 19. diatas terlihat bahwa perjanjian yang telah
disepakati antara peternak penggaduh dengan pemerintah tidak semuanya dapat
terealisasi sesuai dengan yang direncanakan, disebabkan karena ketidak mampuan
peternak penggaduh maupun pemerintah untuk mentaati kesepakatan. Sapi Bali yang
semestinya diterima oleh peternak penggaduh sudah berumur 18 bulan (dewasa
kelamin) tidak dapat terealisasi karena pemerintah tidak mampu mendatangkan
Sapi Bali sesuai surat perjanjian, dampak dari pembatasan standar bibit yang
boleh keluar dari daerah penghasil bibit.
Sebelum dan awal penyebaran ternak bantuan bimbingan teknis
peternakan secara langsung diberikan oleh petugas peternakan dari dinas kabupaten
yang meliputi pembinaan kelompok ternak,
seleksi calon penggaduh ternak, teknis pemeliharaan ternak dan penyampaian
kesepakatan surat perjanjian gaduhan ternak pemerintah. Selanjutnya setelah ternak diterima penggaduh
pembinaan dilimpahkan kepada petugas lapangan atau penyuluh pertanian, karena
petugas tidak berasal dari disiplin ilmu peternakan maka pembinaannya belum
maksimal khususnya dalam pembinaan dibidang teknis peternakan.
Adapun yang menyebabkan terjadinya penempatan petugas yang
tidak sesuai dengan disiplin ilmunya adalah terjadinya perumbahan struktur
dinas dari dinas peternakan berubah menjadi sub dinas pada Dinas Pertanian dan
Peternakan hal ini menyebabkan petugas teknis peternakan banyak pindah
keintansi lain dan digantikan oleh penyuluh pertanian. Selanjutnya pada bulan
Febroari 2009 sub dinas peternak berdiri sendiri menjadi Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan dengan jumlah tenaga teknis yang masih terbatas.
Penggantian gaduhan sapi yang mati akibat penyakit sampai
saat ini belum terealisasi sesuai rencana, karena pemerintah belum mendapatkan
ternak pengganti dari setoran ternak gaduhan. Peternak penggaduh sendiri sampai
saat ini belum mau menyetorkan induk sapi yang digaduh, walaupun induk sapi
gaduhan tersebut sudah memenuhi syarat untuk disetor (anak pertama sudah
berumur 8 bulan).
Penjualan induk sapi gaduhan yang mengalami kegagalan
reproduksi atau majir sampai saat ini juga belum terealisasi, kerena Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan belum
mendapatkan data atau laporan dari petugas lapangan, hal ini disebabkan petugas
lapangan belum mengetahui dengan pasti apakah ternak gaduhan tersebut majir,
karena petugas tersebut belum mempunyai keterampilan untuk pemeriksaan
kebuntingan.
Penggantian sapi gaduhan yang dijual oleh penggaduh tanpa
persetujuan Dinas Pertanian dan Peternakan sampai saat ini belum terealisasi,
sedangkan kasus ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Alasan penggaduh
belum mengganti ternak tersebut karena belum mempunyai uang untuk membeli sapi.
Kesepakatan penggaduh menyetorkan induk sapi gaduhaanya
setelah anak pertama berumur 8 bulan (umur sapih) tidak terealisi. Sebanyak 82
ekor induk Sapi Bali gaduhan yang dipelihara oleh 61 penggaduh belum mau
menyetorkan induk sapinya kepada pemerintah. Secara teknis induk sapi tersebut
sudah bisa disetor karena anak pertama sudah berumur 8 bulan (umur sapih)
dengan alasan ternak sapi pada saat digaduh umurnya masih kecil tidak sesuai
surat perjanjian, maka penggaduh akan menyetor induk sapi gaduhannya setelah
penggaduh mendapat bagian 2 ekor anak dari sapi gaduhannya.
Mengingat banyaknya permasalahan didalam pelaksanaan
program gaduhan Sapi Bali bantuan pemerintah di lapangan maka, Dinas Peternakan
dan Kesehatan Hewan Kabupaten Berau perlu meninjau kembali kesepakatan antara
penggaduh dan pemerintah yang dituangkan dalam perjanjian kontrak gaduhan
ternak pemerintah serta menangani permasalahan teknis yang dialami oleh
peternak penggaduh secepatnya.
Karena
secara teknis umur sapi pada saat digaduhkan tidak sesuai dengan kesepakatan,
diharapkan pola gaduhan untuk penggaduh pertama direpisi dari pengembalian
induk setelah beranak satu ekor dan anaknya sudah disapih (umur 8 bulan)
menjadi pengembalian induk setelah beranak
2 ekor serta ditambah dengan pertambahan nilai sapi betina, akibat pertumbuhan dari sapi betina
muda menjadi sapi induk (persentase dari
peningkatan nilai ternak betina).
4.4. Produktivitas Sapi Bali
4.4.1.
Produktivitas
Sapi Bali gaduhan pada pemukiman Transmigrasi di Kabupaten Berau
Produktivitas seekor ternak merupakan gabungan sifat
produksi dan reproduksi dari ternak tersebut dalam kurun waktu tertentu, serta
dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan intraksi antara genetik dan
lingkungan (Oessali et al, 2005).
Pengukuran tingkat produktivitas Sapi Bali pada pemukiman
transmigrasi di Kabupaten Berau dilakukan terhadap penampilan sifat-sifat reproduksi (tabel 20). Sifat-sifat reproduksi pada sapi
potong yang mempunyai nilai ekonomi penting antara lain : umur pubertas dan
perkawinan pertama, siklus estrus,
service per conception (S/C), jarak beranak, perkawinan pertama setelah
beranak, lama digunakan dalam breeding dan
umur penyapihan pedet (Lasley, 1981 ; Hardjosubroto, 1994. Disitasi Disnak,
2006).
Data tentang umur pubertas, umur kawin pertama, lama
bunting dan birahi setelah melahirkan hanya berdasarkan informasi dan daya
ingat peternak penggaduh karena memang tidak ada catatan tentang data ini,
sedangkan data untuk umur beranak diperoleh dari laporan bulanan petugas teknis atau penyuluh pertanian
Tabel
20. Penampilan Reproduksi Sapi Bali
|
URAIAN
|
SATUAN
|
HASIL
|
|
Umur pubertas
|
|
|
|
a. jantan
|
Bulan
|
20,50 ± 0,97
|
|
b. betina
|
Bulan
|
21,35 ± 1,53
|
|
Umur kawin I
|
||
|
a. jantan
|
Bulan
|
26,50 ± 1,08
|
|
b. betina
|
Bulan
|
25,49 ± 2,10
|
|
Service per conception
S/C
|
Kali
|
1,53 ± 0,59
|
|
Lama kebuntingan
|
Bulan
|
9
|
|
Umur melahirkan I
|
Bulan
|
35,55 ± 2,73
|
|
Estrus post partus
|
Bulan
|
2,6 ± 0,51
|
|
Calving interval
|
Bulan
|
13,62 ± 1,68
|
|
Umur ternak dijual
(afkir)
|
||
|
a.
jantan
|
Tahun
|
6
|
|
b.
betina
|
Tahun
|
7
|
|
Angka kelahiran
|
||
|
a. dari populasi dasar
|
Persen (%)
|
31,48
|
|
b. dari betina dewasa
|
Persen (%)
|
50,00
|
|
Panen pedet
|
||
|
a. dari populasi dasar
|
Persen (%)
|
12,65
|
|
b. dari betina dewasa
|
Persen (%)
|
20,10
|
|
Angka kematian
|
4,42
|
|
|
a. anak
|
Persen (%)
|
0,62
|
|
b. muda
|
Persen (%)
|
3,80
|
|
c. dewasa
|
Persen (%)
|
0
|
|
Natural Increase
|
Persen (%)
|
27,06
|
|
Angka kegagalan
reproduksi
|
Persen (%)
|
19,08
|
|
Perkiraan anak hidup
sampai umur 2 tahun
|
Persen (%)
|
25,86
|
|
a. anak betina
|
Persen (%)
|
14,05
|
|
b. anak jantan
|
Persen (%)
|
11,81
|
|
NRR Betina
|
Persen (%)
|
156,43
|
Sumber : Data primer diolah (2009).
Umur
pubertas Sapi Bali gaduhan pada pemukiman transmigrasi untuk sapi jantan
rata-rata dicapai pada umur 20,50 ± 0,97 bulan dan sapi betina pada umur 21.35 ± 1.53 bulan hasil penelitian ini sesuai dengan hasil
penelitian Pane,1990 yang disitasi Gunawan
dkk, 1998 bahwa umur pubertas Sapi Bali berkisar antara 540 – 660 hari.
Rata-rata peternak penggaduh mengawinkan ternak untuk sapi jantan 26.5 ± 1.08 bulan dan sapi betina pada umur 25.49 ± 2.19 bulan.
Dari rata-rata umur dewasa kelamin sapi betina pada umur 21.35 ±
1.53 sudah dapat dikawinkan tetapi perkawinan ini tidak dilaksanakan, peternak
pertama kali meangawinkan sapi betina rata-rata pada umur 25.49 ± 2.19
bulan. Hal yang menyebabkan peternak lambat mengawinkan ternaknya,
ternaknya masih kecil, kurangnya perhatian penggaduh terhadap gejala birahi ternaknya, kekurangan
pejantan, serta tempat pejantan agak jauh.
Lama kebuntingan Sapi Bali gaduhan
pada pemukiman transmigrasi di Kabupaten Berau adalah 9 bulan. Kebuntingan
terjadi setelah melakukan perkawinan
sebanyak (S/C) 1,53 ± 0,59 kali.
Umur beranak pertama Sapi Bali gaduhan adalah rata-rata 35.55 ± 2.73 bulan, sex
rasio anak jantan : betina adalah 45,65 % : 54,35 %. Keadaan ini umum terjadi pada Sapi Bali
sesuai dengan hasil penelitian Pohan, dkk (2004) umumnya Sapi Bali beranak
pertama setelah berumur 3 tahun dan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan
dilingkungannya. Selajutnya Juarini, dkk (1994) yang disitasi Gunawan (1998),
bahwa umur beranak pertama Sapi Bali yang digembalakan 35 bulan, yang diikat 33
bulan dengan jarak beranak 13 sampai 14 bulan serta dengan Service per
Conception sebesar 1,2 – 1,8 kali.
Induk sapi akan menunjukan gejala birahi sejak beranak rata-rata (estrus post partus) adalah 2,61 ± 0,51 bulan dengan jarak beranak
rata-rata (calving interval) 13,63 ± 1,69 bulan hasil pengamatan ini sesuai
dengan hasil penelitian Sitepu, 1992 yang disitasi Gunawan, 1998 estrus post
partus Sapi Bali di Lampung 62,8 ± 21,8
hari dengan jarak beranak 330 – 550 hari (11 sampai 18,8 bulan).
Lamanya pemeliharaan ternak sapi dalam pola gaduhan ini adalah
sapi jantan dijual (diafkir) pada umur 6 tahun atau
setelah dipelihara selama 4 tahun oleh penggaduh dan induk betina diafkir setelah
5 kali beranak atau pada umur 7 tahun, sesuai dengan surat perjanjian gaduhan
ternak sapi.
Kapasitas produksi Sapi Bali dapat
diukur dari jumlah ternak yang berumur 2 tahun (dewasa kelamin) yang dapat
dihasilkan oleh populasi ternak setiap
tahun atau besarnya perkiraan anak hidup sampai umur 2 tahun (angka harapan
hidup). Angka harapan hidup sangat tergantung pada pertumbuhan alami ternak sapi
(27,06 %), tingkat kematian (4,42 %)
dan rata-rata umur Sapi Bali mencapai kawin pertama (2 tahun). Jadi
jumlah ternak sapi yang dapat dihasilkan pertahun sangat tergantung pada besarnya
jumlah populasi, angka kelahiran, angka kematian, pertumbuhan alami dan angka
harapan hidup pada ternak sapi tersebut. Nilai natural increase Sapi Bali pada
pemukiman transmigrasi mendekati nilai natural increase Sapi Bali di NTB
sebesar 28, 15% dari populasi hasil penelitian Disnak (2006).
Angka kelahiran Sapi Bali adalah
sebesar 50,0% dari populasi betina dewasa atau 31,48 % dari populasi dasar, nilai
ini jauh lebih rendah dari hasil penelitian Pane (1989) yang disitasi Tanari
(2006). Angka kelahiran Sapi Bali di beberapa daerah di Indonesia adalah :
Sulawesi Selatan 76 %, Nusa Tenggara Timur 70 %, Irian Jaya 66 %, Nusat
Tenggara Barat 72 % , Bali 69 % dan P3B Bali 86 %. Hasil penelitian Disnak (2006) angka kelahiran Sapi Bali di NTB
sebesar 72,63% dari jumlah induk. Untuk di negara-negara maju angka kelahiran sapi
potong sebesar 65% (Hardjopranjoto, 2002). Selanjutnya angka harapan hidup
sampai umur 2 tahun adalah sebesar 25,86
% dari populasi dasar yang terdiri dari
sapi jantan 11,91 % dan sapi betina sebesar 14,05 %. Gunawan (1998) menyatakan persentase anak sapi dapat hidup
sampai dewasa sekitar 68 – 80 %
Angka kegagalan reproduksi Sapi Bali
gaduhan sebesar 19,08 % dari populasi dasar, dan 38,16 dari populasi betina
dewasa. Angka kegagalan reproduksi ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan kasus gangguan
reproduksi yang menyebabkan kemajiran sapi potong di Indonesia yaitu sebesar 20,44 % sedangkan angkan
kemajiran ternak potong di Amarika Serikat sebesar 8 – 10 % dari 25 – 30 %
induk yang diafkir. Dibanding hasil
penelitian Disnak (2006) angka kemajiran Sapi Bali di NTB sebesar 0,79% nilai
ini jauh lebih rendah dari angka kegagalan reproduksi sapi pada pemukiman
transmigrasi di Kabupaten Berau. Hal ini tentu sangat merugikan peternak gangguan reproduksi yang menyebabkan
kemajiran atau infertilitas induk ternak merupakan salah satu problem yang
paling sulit untuk dipecahkan baik untuk
peternak maupun petugas kesehatan (Hardjopranjoto, 2002).
Tingginya angka kegagalan reproduksi
Sapi Bali gaduhan pada pemukiman transmigrasi disebabkan karena kurangya
pengetahuan penggaduh terhadap manejemen reproduksi akibat tidak adanya pembinaan teknis setelah sapi
bantuan disebarkan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan, sebaran pejantan yang
tidak merata pada masing-masing unit pemukiman transmigrasi akibat kematian dan
penjualan pejantan yang belum diganti oleh pemerintah maupun penggaduh serta
lokasi pejantan yang jauh dengan lokasi ternak betina sekitar 1 – 2 km.
Jumlah anak Sapi Bali betina yang lahir
dan dapat hidup sampai umur 2 tahun
dibanding dengan kebutuhan ternak betina pengganti (NRR) adalah sebesar 156,43 %.
4.4.2.
Sebaran dan Struktur populasi Sapi Bali
4.4.2.1.
Sebaran populasi Sapi Bali
Pengelompokan populasi Sapi Bali berdasarkan umur fisiologis
dengan katagori umur anak, muda dan dewasa, maka sebaran umur tersebut terdistribusi
sebagaimana tercantum dalam tabel 21.
Tabel 21. Sebaran
populasi Sapi Bali menurut umur
fisiologis
|
UMUR FISIOLOGIS
|
JANTAN
|
BETINA
|
JUMLAH
|
|||
|
EKOR
|
%
|
EKOR
|
%
|
EKOR
|
%
|
|
|
Anak
|
42
|
16,15
|
47
|
18,08
|
89
|
34,23
|
|
Muda
|
5
|
1,92
|
4
|
1,54
|
9
|
3,46
|
|
Dewasa
|
10
|
3,85
|
152
|
58,50
|
162
|
62,31
|
|
TOTAL
|
57
|
21,92
|
203
|
78,08
|
260
|
100
|
Sumber : Data primer diolah (2009)
Dari gambaran komposisi
umur fisiologis tersebut tampak bahwa untuk sapi jantan, kelompok sapi dengan
katagori umur anak di dapati proporsi lebih tinggi (16,15%) dibanding kelompok sapi dengan
kategori umur muda dan dewasa (masing-masing 1,92% dan 3,85%). Sebaliknya untuk
sapi betina kelompok sapi dengan katagori umur dewasa (58,50%) proporsinya lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok sapi dengan katagori umur anak dan muda
(masin-masing 18,08% dan 1,54%). Hal ini mengidentifikasikan bahwa pada kondisi
di pemukiman transmigrasi cukup banyak Sapi Bali betina yang masih dalam usia
produktif . jika dilihat rasio antara
jantan dewasa dengan sapi betina dewasa, yaitu sekitar 1 : 16, maka imbangan ini masih dianggap mencukupi, hasil penelitian Disnak (2006) rasio antara sapi jantan
dewasa dengan sapi betina dewasa dengan imbangan 1 : 8 masih sangat mencukupi, Hardjopranjoto (1995)
menganjurkan perbandingan jantan dengan betina adalah 1 : 20. Meskipun
demikian jika dilihat sebaran pejantan dimasing-masing kelompok maka rasio
tersebut dirasakan belum mencukupi hal ini ditemui pada 3 kelompok ternak
(Sumber rejeki, Semangat Baru dan manunggal jaya) bahwa untuk perkawinan sapi
betinanya mereka masih merasa kekurangan pejantan setiap kelompok tersebut
hanya terdapat 1 ekor pejantan.
Tingginya proporsi sapi
betina dewasa umur fisiologis 4 tahun merupakan indikasi bahwa sapi tersebut
masih produktif dan memungkinkan terjadinya perkawinan yang subur sehingga
berpotensi dalam penyediaan atau penambahan populasi Sapi Bali selajutnya.
Selanjutnya
pada tabel 21 tampak bahwa sebagian besar Sapi Bali yang ada pada pemukiman
transmigrasi adalah termasuk katagori umur dewasa (62,31%) hal ini disebabkan
karena pada populasi ternak dewasa terdapat sebanyak 58 (38,16% dari jumlah betina dewasa) betina majir (3 tahun masa pemeliharaan tidak
beranak) sehingga ternak ini perlu mendapat penanganan yang cepat oleh
pemerintah selaku pemberi program bantuan ternak. Jumlah anak betina untuk
katagori umur anak dan muda didapati jumlah yang hampir sama dengan jumlah anak
jantan untuk katagori umur yang sama. Dari komposisi umur yang demikian maka
didapati potensi penyediaan calon bibit betina dan calon pejantan selanjutnya.
4.4.2.2.
Struktur populasi Sapi Bali
Data dari
survei monitoring ini mencatat struktur populasi Sapi Bali yang ada diseluruh
lokasi penelitian seperti pada tabel 21. Struktur populasi ternak domistik
sekarang ini berbeda-beda baik antara negara, antara kelas ternak, antara
bangsa ternak, bahkan antara species ternak. Banyak faktor yang mempengaruhi
struktur populasi suatu jenis ternak diantaranya 1) perjalanan sejarah yang berkaitan
dengan perkembangan transportasi dan komonikasi, 2) faktor sosial, 3) tahap
perkembangan ekonomi, 4) tujuan mendapat suatu kelas ternak, 5) tipe program
yang dilaksanakan oleh pemerintah, 6) seberapa jauh pencatatan dilakukan, 7)
seberapa jauh teknologi maju dibidang reproduksi digunakan, 8) jumlah keturunan
yang dihasilkan oleh betina. Faktor-faktor tersebut tidak bebas satu dengan
lainnya (Warwick et al, 1983 disitasi
Disnak, 2006).
Struktur populasi Sapi Bali
dapat diketahui dengan cara mencari sebaran populasi ternak menurut umur dan
jenis kelamin. Sebaran populasi Sapi Bali pada pemukiman transmigrasi di
Kabupaten Berau dapat dilihat pada tabel 21.
Untuk lebih jelasnya struktur populasi Sapi Bali dapat dilihat pada
gambar 2.

Gambar 2.
Struktur populasi Sapi Bali (Ternak Sample)
4.5.
Biaya dan Pendapatan Peternak penggaduh Sapi Bali
Pendapatan peternak
penggaduh adalah penerimaan yang
diproleh dari hasil gaduhan ternak sapi setelah dikurangi dengan
biaya-biaya yang dikeluarkan oleh penggaduh untuk menghasilkan produksi
tersebut. Komponen yang menentukan pendapatan penggaduh ternak sapi dalam
penelitian ini adalah biaya produksi dan nilai produksi.
4.5.1. Biaya produksi
Biaya produksi merupakan penjumlahan
dari biaya yang dikeluarkan selama satu periode gaduhan ternak, biaya ini
meliputi biaya variabel dan biaya tetap (penyusutan alat dan bahan)
Biaya variabel yaitu biaya yang dikeluarkan dan habis dipakai
dalam satu kali proses produksi, biaya ini terdiri dari biaya, tenaga kerja,
bibit, makanan dan obat-obatan. Sedangkan biaya tetap adalah biaya yang
dikeluarkan dan dapat dipakai dalam beberapa kali proses produksi. Biaya ini terdiri
dari biaya kandang dan peralatan seperti, tali, sabit, cangkul dan tempat
minum. Biaya tetap merupakan biaya yang
besar pengaruhnya terhadap total pengeluaran bagi peternak penggaduh.
Akibat
adanya beberapa kesepakatan Surat Perjanjian Gaduhan Ternak
Sapi yang
tidak terealisasi serta berdasarkan jumlah dan jenis kelamin sapi yang masih
dipelihara oleh penggaduh, maka strata pemeliharaan sapi gaduhan setelah
penelitian dapat dikelompokkan menjadi empat strata yaitu : peternak memelihara
1 ekor sapi betina, peternak memelihara 2 ekor sapi betina, peternak memelihara
1 ekor sapi jantan dan 1 ekor sapi betina, serta peternak memelihara 1 ekor sapi
jantan dan 2 ekor sapi betina. Rata-rata biaya produksi pemeliharaan gaduhan
Sapi Bali bantuan pemerintah disajikan pada tabel 22. sebagai berikut.
Tabel 22. Rata-rata
biaya produksi pemeliharaan gaduhan Sapi
Bali
|
STRATA PEMELIHARAAN
(EKOR)
|
PENGGADUH
|
BIAYA PRODUKSI (Rp)
|
PER PENGGADUH PER TAHUN (Rp)
|
PER EKOR PER TAHUN (Rp)
|
|
1 Betina
|
33
|
11.863.000
|
119.828,28
|
119.828,29
|
|
2 Betina
|
51
|
24.752.250
|
161.779,41
|
80.889,70
|
|
1 Jantan dan 1 betina
|
3
|
1.698.000
|
188.666,67
|
94.333,30
|
|
1 Jantan dan 2 betina
|
7
|
4.819.250
|
229.488,10
|
76.496,03
|
|
Jumlah
|
94
|
43.132.500
|
Sumber : Data primer
diolah (2009)
Pada tabel
22. terlihat bahwa besarnya biaya yang dikeluarkan seluruh responden (94
penggaduh) yang pemeliharaan sapi
gaduhan bantuan pemerintah adalah sebesar Rp. 43.132.500 yang
tersebar pada 4 strata pemeliharaan ternak.
Rata-rata biaya produksi per
responden per tahun pada masing-masing strata pemeliharaan ternak adalah
sebagai berikut : strata pemeliharaan 1 ekor betina biaya produksinya sebesar
Rp. 119.828,28, strata pemeliharaan 2 ekor betina biaya produksinya sebesar Rp.
161.779,41, strata pemeliharaan 1 ekor betina dan 1 ekor pejantan sebesar Rp. 188.666,67
dan strata pemeliharaan 1 ekor jantan dan 2 betina dengan biaya pemeliharaan
sebesar Rp. 229.488,10. Dari biaya produksi rata-rata per penggaduh per tahuan terlihat bahwa jumlah pemeliharaan sapi 3 ekor
(1 jantan dan 2 betina) memerlukan biaya produksi yang lebih banyak dibanding
dengan pemeliharan sapi 1 ekor dan 2 ekor, hal ini sesuai dengan jumlah ternak
yang dipelihara.
Selanjutnya pada rata-rata biaya produksi
pemeliharaan ternak per ekor ternak per tahun pemeliharaan ternak gaduhan
sebanyak 3 ekor sapi (1 jantan dan 2 betina) menggunakan biaya produksi paling
rendah sebesar Rp. 76.496,03 dan selanjutnya strata pemeliharaan 2 betina biaya
produksinya sebesar Rp. 80.889,70, dibandingkan dengan 2 strata pemeliharaan lainnya yaitu : pada
strata pemeliharaan 1 ekor betina dengan rata-rata biaya produksi per ekor
pertahun 119.828,29 dan strata pemeliharaan 1 jantan dan 1 betina dengan biaya
produksi sebesar Rp. 94.333,3.
Rendahnya rata-rata biaya produksi per ekor sapi
pertahun pada pemeliharaan strata 1 ekor jantan
dan 2 ekor betina, serta 2 ekor betina karena lebih efesien dalam biaya
kandang, disamping itu ternak yang dipelihara pada kedua strata tersebut tidak banyak yang mati,
dibanding 2 strata pemeliharaan lainnya sehingga biaya pemeliharaan ternak mati tidak terlalu
banyak diikutkan dalam biaya produksi.
Pada strata pemeliharaan ternak 1 ekor betina
biaya produksi per ekor pertahun paling tinggi karena biaya pemeliharaan juga
berasal dari biaya pemeliharaan ternak yang mati yaitu sebanyak (43,93%) 29 ekor betina mati, karena strata pemeliharaan 1 ekor betina
berasal dari strata pemeliharaan 2 ekor betina (jumlah sapi betina sebanyak 33
ekor berasal dari ternak awal sebanyak 66, dikurangi mati sebanyak 29 ekor dan dijual 4 ekor) ,
demikian juga pada strata pemeliharaan 1
jantan dan 1 betina biaya produksi juga berasal dari pemeliharaan ternak
betina yang mati sebanyak (33,33 %) 2 ekor.
(strata pemeliharaan 1 jantan dan 1 betina berasal dari strata pemeliharaan 1
jantan dan 2 betina). Sedangkan pada strata pemeliharaa 2 ekor betina ternaknya yang mati sebanyak 6
ekor pejantan (0,55 %).
Peternak
penggaduh Sapi Bali bantuan pemerintah sama sekali tidak mengeluarkan biaya
variabel (biaya sapi bibit dan
obat-obatan) karena semua biaya tersebut
ditanggung oleh pemerintah. Untuk
pakan peternak tidak ada yang membeli, pemeliharaan ternak dilakukan
dengan penggembalaan secara terikat rata-rata 8 jam setiap hari pada lahan yang
belum dikelola. Sapi dikandangkan dan
diberi makan pada malam hari serta tidak ada menggunakan tenaga kerja yang di
gaji.
4.5.2. Penerimaan dan Pendapatan
peternak penggaduh.
Penerimaan
usahatani merupakan perkalian antara produksi yang diproleh dengan harga jual. Penerimaan
peternak penggaduh Sapi Bali bantuan pemerintah
terdiri dari : nilai ternak hasil gaduhan (pedet umur 8 bulan), nilai pedet yang belum sapih (pedet umur
kurang dari 8 bulan), nilai ternak pejantan dan betina majir (70 % dari
keuntungan), dan nilai ternak gaduhan
yang masih bunting (70 % dari
keuntungan).
Pendapatan peternak
penggaduh merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya ( biaya tetap dan
biaya tidak tetap ).
Tabel
23. Rata-rata penerimaan, biaya produksi dan pendapatan penggaduh (per penggaduh per tahun)
|
URAIAN
|
JUMLAH PEMELIHARAAN
(EKOR)
|
|||
|
1 BETINA
|
2 BETINA
|
1 JANTAN DAN 1 BETINA
|
1 JANTAN DAN 2 BETINA
|
|
|
Penerimaan (Rp)
|
724.747,47
|
1.439.869,28
|
1.800.000,00
|
2.645.238,10
|
|
Biaya produksi (Rp)
|
119.828,28
|
161.779,41
|
188.666,67
|
229.488,10
|
|
Pendapatan (Rp)
|
604.919,19
|
1.278.089,87
|
1.611.333,33
|
2.415.750,00
|
Sumber : Data Primer
diolah (2009)
Dari tabel 23 diatas terlihat bahwa, rata-rata pendapatan per penggaduh per tahun adalah terbesar pada
strata pemeliharaan ternak 1 ekor jantan dan 2 ekor betina yaitu sebesar Rp.
2.415.750, selanjutnya pada strata pemeliharaan 1 ekor jantan dan 1 ekor betina
sebesar Rp. 1.611.333,33, strata pemeliharaan 2 ekor betina sebesar Rp.
1.278.099,87 dan strata pemeliharaan 1 ekor betina sebesar Rp. 604.919,19.
Dari rata-rata pendapatan per penggaduh per tahun pada ke empat strata pemeliharaan ternak gaduhan terlihat bahwa semakin bertambah jumlah ternak
yang dipelihara maka semakin bertambah pula pendapatan per penggaduh pertahun. Hal
ini sesuai dengan pendapat Gunawan dkk (1998)
yang menyatakan faktor jumlah kepemilikan ternak berpengaruh positif
terhadap pendapatan peternak. Oleh
karena itu peningkatan jumlah pemilikan ternak
akan meningkatkan pendapatan.
Disamping dipengaruhi
oleh jumlah ternak yang dipelihara penggaduh, besarnya pendapatan penggaduh pertahun juga dipengaruhi oleh jenis
kelamin ternak yang digaduh, dimana pada pemeliharan ternak 2 ekor betina (2 betina) pendapatan
bersihnya lebih kecil dari pada penggaduh yang memelihara 2 ekor ternak ( 1
jantan dan 1 betina).
Perbedaan pendapat antara penggaduh 2
ekor betina dengan pengaduh 1 ekor
pejantan dan 1 ekor betina pada pemukiman transmigrasi disebabkan karena produktivitas
dan nilai ternak betina (pola pembibitan
) lebih rendah dari ternak jantan (pola penggemukan), rendahnya produktivitas
ternak betina akibat dari tingginya angka kegagalan reproduksinya, nilai
pertumbuhan sapi betina tidak ikut dihitung sebagai pendapatan penggaduh dan
harga sapi jantan lebih tinggi dari sapi betina pada umur yang sama . Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian Hermanto (2004) bahwa pembudidayaan ternak sapi
bakalan secara ekonomi kurang menguntungkan,
jika semua input diperhitungkan sebagai korbanan biaya atas pembelian
faktor produksi dan peternak menerima revenue atas penjualan semua output, maka
keuntungan bersih yang diterima petani adalah negative atau rugi. Jika korban biaya dan revenue peternak hanya didasarkan pada pengeluaran
dan penerimaan tunai, keuntungan peternak bisa mencapai sekitar Rp. 1000.000,-. Sedangkan hasil analisa
finansial usaha penggemukan secara ekonomi dapat memberikan keuntungan bersih sebesar
Rp 911.080 dan penerimaan tunai sebesar
Rp. 3.494.080. selanjutnya hasil penelitian Wirajaswadi dkk, (2006) menyatakan,
harga jual pejantan jauh lebih tinggi dibanding induk, pada umur yang sama
harga jual satu ekor pejantan dapat menyamai 2 ekor betina.
Tabel 24. Rata-rata
penerimaan, biaya produksi dan pendapatan penggaduh (per ekor per tahun)
|
URAIAN
|
JUMLAH PEMELIHARAAN
(EKOR)
|
|||
|
1 BETINA
|
2 BETINA
|
1 JANTAN DAN
1 BETINA
|
1 JANTAN DAN
2 BETINA
|
|
|
Penerimaan (Rp)
|
724.747,50
|
719.934,64
|
900.000,00
|
881.746,03
|
|
Biaya produksi (Rp)
|
119.828,30
|
80.889,70
|
94.333,30
|
76.496,03
|
|
Pendapatan (Rp)
|
604.919,20
|
639.044,94
|
805.666,70
|
805.250,00
|
Sumber : Data Primer
diolah (2009)
Pada tabel 24. diatas
terlihat bahwa rata-rata pendapatan per ekor ternak per tahun dari empat strata
pemeliharaan adalah sebagai berikut : strata pemeliharaan 1 ekor betina sebesar
Rp. 604.919,20, strata pemeliharaan 2 ekor betina sebesar Rp. 639.044,94,
strata pemeliharaan 1 jantan dan 1 betina sebesar Rp. 805.666,67 dan strata
pemeliharaan 1 jantan dan 1 betina sebesar Rp. 805.250.
Dari rata-rata
pendapatan per ekor per tahun pendapatan
strata pemelihara 1 ekor betina lebih kecil dari strata pemelihara 2 ekor
betina, hal ini disebabkan karena biaya produksi pemeliharaan pada strata 1
ekor betina lebih besar dari biaya produksi pemeliharaan 2 ekor betina.
Rata-rata pendapatan per ekor pertahun
pada penggaduh yang hanya memelihara ternak betina lebih rendah dibanding
dengan penggaduh yang memelihara ternak betina dan jantan hal ini disebabkan
karena produktivitas dari ternak gaduhan betina
masih relatif rendah dibanding dengan ternak jantan rendahnya
produktivitas ternak betina akibat dari tingginya angka kegagalan reproduksinya,
nilai pertumbuhan sapi betina tidak ikut dihitung sebagai pendapatan penggaduh
dan harga jual pejantan jauh lebih tinggi dibanding induk pada umur yang sama.
4.5.3. Tingkat pendapatan
Secara keseluruhan tingkat
pendapatan per penggaduh per tahun digolongkan menjadi tiga
strata yaitu: Strata I dengan kisaran pendapatan Rp. 439.580 – Rp. 1.133.050, Strata II dengan
kisaran pendapatan Rp. 1.133.051 - Rp. 1.826.520,
dan strata III dengan kisaran pendapatan Rp. 1.826.521
– Rp. 2.520.000. Strata pendapatan dari
pemeliharaan sapi gaduhan disajikan pada tabel
24.
Tabel
24. Tingkat pendapatan penggaduh Sapi
Bali bantuan pemerintah (per penggaduh per tahun)
|
STRATA PEMELIHARAAN
(EKOR)
|
URAIAN
|
STRATA PENDAPATAN
|
TOTAL
|
||
|
I
|
II
|
III
|
|
||
|
1 Betina
|
Responden (%)
|
35,1
|
0
|
0
|
35,1
|
|
2 Betina
|
Responden (%)
|
14,9
|
39,4
|
0
|
54,3
|
|
1 Jantan dan 1 betina
|
Responden (%)
|
0
|
3,2
|
0
|
3,3
|
|
1 Jantan dan 2 betina
|
Responden (%)
|
0
|
0
|
7,4
|
7,4
|
|
Total
|
Responden (%)
|
50,0
|
42,6
|
7,4
|
100,0
|
Sumber : Data Primer diolah (2009)
Dari tabel 24. diatas terlihat
semua peternak (33 atau 35,1 % responden)
yang memelihara sapi dengan strata pemeliharaan 1 ekor betina pendapatannya
masuk pada strata I (Rp. 439.580 - Rp. 1.133.050).
Peternak yang yang memelihara 2 ekor sapi
(2 betina) pendapatannya masuk pada 2 strata yaitu: strata II (Rp. 1.133.051 - Rp. 1.826.520) sebanyak 37 responden (39,4 % dari 54,3 %) dan sisanya sebanyak 14
responden (14,9%) masuk pada strata I. Sedangkan peternak yang memelihara 2
ekor sapi (1 jantan dan 1 betina) semua pendapatannya masuk pada strata II.
Diantara
peternak yang sama-sama memelihara 2 ekor sapi terjadi perbedaan starata
pendapatan, dimana semua peternak yang memelihara 2 ekor sapi (1 jantan dan 1
betina) masuk pada pendapatan bersih strata II sedangkan peternak yang
memelihara 2 ekor sapi (2 betina) sebanyak 14 responden (14,9%) masuk pada
pendapatan strata I.
Masuknya
14 responden (14,9%) pemelihara 2 ekor sapi (2 betina) pada pendapatan bersih
strata I disebabkan karena ke 14 responden tersebut produktivitas ternaknya
lebih rendah, akibat ternak yang dipeliharanya
mengalami kegagalan reproduksi dan anak belum sapih. Dari 14 responden 12 peternak ke dua ekor
sapi yang dipelihara mengalami kegagalan reproduksi dan 2 peternak satu ekor
sapinya gagal reproduksi dan 1 ekor anak sapi masih menyusui.
Selanjutnya semua peternak (7 responden atau 7,4
%) yang memelihara 3 ekor sapi (1 jantan
dan 2 betina) pendapatannya masuk pada strata III dengan strata pendapatan bersih
Rp. 1.826.521 – Rp. 2.520.000.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar